Kebijakan tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk mengurai kemacetan yang kerap kali terjadi di kawasan tersebut, terutama pada jam-jam sibuk.
Berdasarkan pemantauan Koran Kaltim, meskipun rambu larangan telah terpasang dengan jelas, pelanggaran masih kerap dijumpai.
Sejumlah pengendara nekat menerobos arus dari Jalan Camar menuju Jalan Gatot Subroto, yang sejak November 2024 sudah menerapkan sistem satu arah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda, Hotmarulitua Manalu menyayangkan rendahnya kesadaran sebagian warga terhadap aturan lalu lintas yang berlaku.
“Penertiban sudah sering kali kita lakukan, tapi masih banyak yang melanggar. Padahal, kita ingin menjadikan Samarinda sebagai kota peradaban,” ujar Manalu kepada Korankaltim.com, Selasa (24/6/2025).
Menurutnya, konsep kota peradaban tidak hanya dibangun dari sisi pemerintahan, melainkan juga membutuhkan peran aktif masyarakat sebagai pelaku utama di ruang publik.
“Bagaimana kita mau menciptakan Samarinda menjadi kota peradaban, kalau masyarakatnya sendiri tidak mau tertib? Pemerintah sudah mengatur, tinggal bagaimana masyarakat menaati,” tegasnya.
Ia juga mengkritik sikap sebagian warga yang masih bergantung pada kehadiran petugas untuk menjaga disiplin lalu lintas. Padahal idealnya, ketertiban menjadi bagian dari kesadaran kolektif.
“Masa kita harus terus-menerus menyediakan petugas di setiap titik. Ketertiban harus ada dalam diri masyarakat. Ketika terjadi kecelakaan, jangan serta-merta menyalahkan pemerintah,” terangnya.
Dishub sendiri, lanjut Manalu, telah berulang kali melakukan sosialisasi, termasuk memasang rambu-rambu lalu lintas di setiap simpang jalan. Namun pelanggaran masih terus terjadi.
“Sudah berulang kali kami sosialisasikan, bahkan sudah jelas-jelas ada rambu. Tapi masih saja ada yang bandel menerobos,” sesalnya.
Karena itu, ia berharap ketertiban berlalu lintas dapat menjadi bagian dari budaya masyarakat Samarinda, bukan sekadar rutinitas formalitas yang hanya ditaati jika ada pengawasan.
“Samarinda sebagai kota yang bercita-cita menjadi kota peradaban, perlu keterlibatan dan kesadaran bersama. Aturan bukan sekadar formalitas, tapi harus menjadi budaya,” tandasnya.
Editor: Erwin