Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Salehuddin pun berharap pembangunan di kabupaten tersebut bisa berjalan dengan baik.
“Sebelumya selamat sudah dilantik dan resmi menjadi bupati dan wakil bupati. Besar harapan kami proses pembangunan di Kukar berjalan lebih baik,” kata Salehuddin kepada Korankaltim.com.
Diketahui, visi misi dari Aulia-Rendi ternyata sama dengan yang dimiliki Rudi-Seno dikepemimpinannya sebagai gubernur dan wakil gubernur. Itu berarti tinggal melakukan sinkronisasi bersama pemerintah provinsi Kaltim terkait dengan beberapa kewenangan.
“Kaitannya dengan pembangunan sarpras (sarana dan prasarana), termasuk sapras jalan karena itu menjadi tantangan terbesar di Kukar,” ungkap Salehuddin.
“Artinya bisa berbagai, mana kewenangan provinsi mana kewenangan kabupaten. Mana yang bisa dicoba untuk dikoordinasikan ya dilakukan,” paparnya.
Meski baru dilantik, Rendi Solihin bukanlah orang baru di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Kukar sehingga Salehuddin percaya koordinasi terus berjalan.
Salehuddin juga yakin keduanya pasti memiliki target kedepan. “Mungkin targetnya terkait permasalahan yang ada di Kukar soal sapras, seperti jalan dan jembatan yang masih dibeberapa antarkecamatan masih belum terbenahi,” ucapnya.
Bahkan ada jalanan antara kabupaten yang belum tersambung dengan baik. Aulia-Rendi juga diingatkan untuk meminimalkan angka kemiskinan di Kukar. “Mudah-mudahan visi dan misi bupati dan wakil bupati terpilih bisa menjawab itu,” harap Salehuddin.
Termasuk juga angka stunting walaupun saat ini sudah terjadi penurunan yang signifikan tetapi diharapkan angkanya terus turun setiap tahun.
“Yang namanya stunting ini kan tidak hanya 1-2 tahun, perlu jangka panjang supaya angka itu akan terus mengalami penurunan. Kalau perlu dibawah angka nasional,” tegasnya.
Pemkab Kukar dengan Pemprov Kaltim juga harus terus berkoordinasi untuk beberapa pekerjaan. “Misal tahun ini melakukan apa, tahun kemudian membuat apa sesuai dengan target dari RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah),” Salehuddin memungkasi.
Editor: Aspian Nur