Dalam acara yang digagas BenihBaik.com bersama Danantara Indonesia, PT Perkebunan Nusantara IV, dan Ditjen Diktisaintek yang memunculkan berbagai gagasan besar tentang transformasi pendidikan tinggi di Indonesia mengemuka.
Pada kegiatan ini diisi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dan Direktur Bidang SDM dan IT PT Perkebunan Nusantara IV, Suhendri dan dipandu oleh Founder dan CEO Benihbaik.com, Andy F Noya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Stella Christie menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi agar lebih responsif terhadap kebutuhan dunia industri.
Ia menyebut kementerian kini aktif memperkuat kemitraan antara kampus, pelaku usaha dan pemerintah daerah agar riset dan inovasi tidak hanya menjadi tumpukan laporan, tetapi benar-benar menyelesaikan persoalan riil di masyarakat.
“Industri punya masalah, universitas punya solusi. Tugas kami adalah mempertemukan keduanya agar kolaborasi ini berkelanjutan dan berdampak,” ujar Stella.
Ia juga menyampaikan dukungan anggaran terhadap dunia riset terus ditingkatkan. Selain dana pengabdian masyarakat dari APBN, pemerintah bekerja sama dengan LPDP menyediakan tambahan dana riset senilai Rp1,8 triliun.
Fokusnya, pada kali ini diarahkan pada riset strategis yang mencakup ketahanan pangan, energi, air, serta hilirisasi industri. “Kami mendorong konsep open science, tapi tetap dengan arah nasional yang jelas,” tambahnya.
Menanggapi dorongan transformasi tersebut, Rektor Unmul, Abdunnur, menegaskan bahwa keberhasilan reformasi pendidikan tinggi juga harus ditopang oleh perluasan akses.
Ia menyebut dari sekitar 69 ribu lulusan SMA/SMK di Kalimantan Timur setiap tahun, hanya 12 ribu yang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. “Artinya baru 20 persen. Ini menunjukkan kesenjangan yang masih tinggi,” ucapnya.
Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap kampus di luar Pulau Jawa harus diperkuat. Ia mendorong adanya kebijakan afirmatif dalam pengembangan infrastruktur, fasilitas, hingga sistem pembelajaran di kawasan timur Indonesia.
“Pendidikan tinggi di daerah harus jadi prioritas. Memberikan beasiswa itu investasi. Kami ingin Unmul menjadi penggerak ekonomi regional, seperti Stanford di Silicon Valley,” tutur Abdunnur.
Talkshow ini juga membahas pentingnya penguatan pendidikan vokasi, penyelarasan kurikulum kampus dengan kebutuhan industri serta apresiasi terhadap program Pemprov Kaltim yang menggratiskan biaya pendidikan tinggi bagi warganya.
Seluruh sesi ditutup dengan semangat kolaboratif untuk melahirkan generasi pemimpin baru yang tangguh dan berdampak luas bagi bangsa.
Editor: Erwin