“Hasil pemantauan akan menjadi dasar bagi pimpinan daerah dalam mengambil kebijakan, seperti melakukan operasi pasar atau gerakan pangan murah jika terjadi lonjakan harga yang signifikan dan berpotensi menyebabkan inflasi,” kata Amaylia, melansir dari Antaranewskaltim.com Selasa (3/6/2026) pagi ini.
Selain harga dan pasokan, aspek keamanan pangan juga menjadi fokus utama dalam pengawasan ini. Selain DPTPH, Tim pengawasan melibatkan Satpol PP, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Dinas Kesehatan.
Terkait ketersediaan pasokan, hasil pemantauan pekan lalu oleh enumerator Dinas Pangan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) serta Badan Pusat Statistik (BPS), stok bahan pokok di Kaltim dalam kondisi cukup.
Pemantauan difokuskan pada dua kota utama di Kaltim, yakni Samarinda dan Balikpapan karena kedua kota tersebut merupakan sentra distribusi pangan yang menjadi rujukan bagi kabupaten/kota lain di Benua Etam.
Pemantauan pangan di Samarinda berlangsung hari ini, difokuskan dari Pasar Segiri, Lotte Mart, dilanjutkan di Hypermart Bigmall Samarinda, hingga Gudang Bulog Karang Asam Ulu I.
Setelah melakukan kunjungan lapangan, tim akan menggelar rapat untuk membuat berita acara mengenai temuan-temuan di lapangan, baik terkait harga, pasokan, maupun keamanan pangan. Temuan ini akan menjadi dasar untuk tindakan selanjutnya.
Contohnya saat Idulfitri 2025 lalu, ditemukan beberapa kasus seperti minyak goreng dengan volume yang berkurang, beras dalam kemasan dengan berat yang tidak sesuai, serta produk yang sudah rusak atau busuk namun masih dipajang untuk dijual.
Namun hingga saat ini tidak ada kendala berarti dalam distribusi pangan dari daerah produsen ke Kaltim. Secara umum, stok pangan di Kaltim berada dalam kondisi aman.
Editor: Aspian Nur