Ia menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menanggulangi persoalan ini secara menyeluruh.
Menurut Damayanti, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan organisasi sosial sangat dibutuhkan guna meminimalkan angka kekerasan yang terus meningkat.
“Ini persoalan serius. Jangan takut untuk melapor, karena kekerasan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan,” ujarnya, Selasa (20/5/2025).
Berdasarkan data Simfoni Perlindungan Perempuan dan Anak menunjukkan lonjakan signifikan kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Setidaknya, tercatat 551 kasus pada 2021, melonjak menjadi 945 kasus pada 2022, dan meningkat lagi menjadi 1.108 kasus pada 2023. Sementara itu, hingga 31 Juli 2024, sudah tercatat 569 kasus.
Untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan seksual yang masih dianggap tabu, Damayanti tengah menggagas kurikulum khusus bagi anak usia dini.
Tujuannya adalah agar anak-anak memahami batasan tubuh mereka dan mampu mengenali tindakan yang tidak pantas.
“Pendidikan semacam ini akan membantu anak-anak mengenali hak atas tubuh mereka, serta memberi keberanian untuk melindungi diri,” jelasnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dalam melaporkan tindakan kekerasan. Menurutnya, meningkatnya laporan bukan berarti meningkatnya kekerasan, melainkan bertambahnya kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan.
“Banyak kasus tersembunyi seperti fenomena gunung es. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung korban untuk bersuara,” tutupnya.
Editor: Erwin