Ruang public baru ini tidak dibangun sepenuhnya oleh pemerintah kota melainkan melalui kemitraan swasta dengan pelaksana teknis dari Center for Climate and Urban Resilience Universitas 17 Agustus (CeCUR Untag) Surabaya dan telah digagas sejak tahun 2021 lalu.
Kehadiran Taman Para’an ini merupakan hasil kolaborasi yang berakar dari keinginan masyarakat sendiri. Mulai dari desain hingga fungsi ruang, semua ditentukan melalui proses yang melibatkan warga dan didampingi para akademisi. “Ini bukan taman yang desainnya ditentukan oleh pemerintah atau lembaga kemitraan, tapi oleh masyarakat sendiri, dibantu oleh para akademisi,” ucap Harun pada acara tersebut kepada Korankaltim.com.
Taman Para’an menjadi ruang terbuka pertama di Samarinda yang sepenuhnya mengandalkan energi terbarukan. Seluruh sumber daya listrik taman berasal dari solar panel berkapasitas 5 ribu watt dan turbin angin yang sudah memberikan kontribusi energi.
“Tidak pakai PLN, semua dari solar panel dan turbin angin. Ini bukti bahwa energi alternatif bisa hadir di tengah kota,” katanya.
Untuk menjamin keberlanjutan taman ini, pemerintah juga menyiapkan Kelompok Kerja (Pokja) Ruang Publik yang akan bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pemeliharaan.
Kelompok ini terdiri dari masyarakat yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan, termasuk pengelolaan energi terbarukan. “Mereka sudah disekolahkan di Ciheras (Jawa Barat) agar tahu cara merawat. Bahkan nanti kami juga akan minta serapan dari CeCUR untuk pemanfaatan energi alternatif ke depan,” ungkap Andi Harun.
Taman Para’an diharapkan jadi percontohan pembangunan ruang publik yang mengedepankan keterlibatan warga dan keberlanjutan lingkungan. “Ini bisa jadi contoh dan kami berterima kasih atas dukungan dari CeCUR dan mitra, mudah-mudahan bisa bertambah lagi di tahun-tahun berikutnya,” pungkas orang nomor satu di Kota Tepian itu.
Editor: Aspian Nur