“Apapun yang ditampilkan seorang komunikator publik harus memenuhi keinginan publiknya. Kalau tidak, ya akan dianggap tidak sesuai ekspektasi,” ungkap Nurlia kepada Korankaltim.com Kamis (15/5/2025) hari ini.
Hal ini disampaikan Nurlia terkait beredarnya video potongan pernyataan Wali Kota Samarinda Andi Harun yang menegur pemilik kafe di kawasan Citra Niaga dan menyebut nama daerah lain sementara yang berkembang di media sosial (medsos) dinilai tidak mewakili konteks utuh apa yang terjadi di lapangan.
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unmul itu menyebut pemimpin idealnya memahami kebutuhan masyarakat sebelum menyampaikan pernyataan. Komunikasi berbasis riset dan pengamatan terhadap isu menjadi penting agar tidak menimbulkan reaksi negatif.
“Kebutuhan publik saat ini seperti lapangan kerja yang layak, pendidikan gratis, ekonomi yang berjalan baik. Kalau pemimpin menyentuh itu, dia dianggap berhasil,” papar Nurlia.
Ia juga menyoroti peran buzzer atau akun-akun digital yang kerap menggiring opini publik lewat potongan video maupun narasi sepihak.
Fenomena ini menurutnya menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sehingga ia mengingatkan agar pejabat daerah tidak mudah terpancing berlebihan secara emosional.
“Ketika sudah menjadi tokoh public maka harus siap dengan segala reaksi karena pasti tidak bisa menyenangkan semua orang,” tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan video yang tersebar tidak menampilkan konteks penuh atas tindakannya dan menyayangkan potongan video tersebut dimanfaatkan untuk membangun narasi negatif.
“Medsos yang tidak tahu konteks, dipotong videonya akhirnya jadi jelek narasinya,” ucap Andi Harun saat meninjau lokasi longsor di Jalan Belimau, Kelurahan Lempake beberapa waktu lalu
Teguran kepada pemilik kafe dilakukan lantaran yang bersangkutan tidak menjaga kebersihan lingkungan. Namun, fakta tersebut tak tergambar dalam potongan video yang beredar. “Tidak ada niat dan tujuan lain. Kami ingin Samarinda bersih. Kalau kerja benar saja dinilai jelek apalagi kalau santai,” ucap Andi Harun.
Editor: Aspian Nur