Tak tanggung-tanggung, banjir yang menerjang tiga hari lalu membuat 50 hektare sawah terendam di Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, membuat para petani di kawasan tersebut terancam gagal panen.
Manager Brigade Pangan Suluh Manuntung sekaligus Ketua Kelompok Tani Krida Karya Utama Samarinda Adung KS Utomo mengungkapkan hal tersebut, terlebih lagi air belum juga surut hingga Rabu (14/5/2025) malam tadi, bahkan hujan kembali mengguyur dengan deras sejak petang yang membuat kondisi kian parah.
"Untuk wilayah sawah di Kecamatan Samarinda Utara, memang di Kelurahan Lempake yang terparah," ujar Adung melansir dari Antaranewskaltim.com Kamis (15/5/2025) pagi ini.
Wilayah yang paling terdampak meliputi kelompok tani di kawasan Betapus, Girirejo hingga Muang Ilir. Kondisi padi di lahan tersebut bervariasi, mulai dari yang baru hamil, mulai keluar malai hingga siap panen. "Bahkan, ada petani yang sudah memanen namun hasil panennya ikut terendam dan hanyut," ungkapnya.
Adung yang juga menjabat sebagai manager brigade pangan untuk Kecamatan Samarinda Utara menyebut target kawasan olah tanam (Oplah) di wilayahnya mencapai 210 hektare. Namun, dengan adanya banjir diperkirakan hingga 50 hektare lahan padi terancam gagal panen.
Dirinya menyayangkan perlindungan yang belum memadai bagi petani, seperti asuransi pertanian yang proses klaimnya dinilai rumit dan memakan waktu lama.
Pengalaman di kelompok taninya menunjukkan dalam setahun, petani bisa dua hingga tiga kali tanam dan panen. Namun, dalam dua kali musim tanam terakhir ini, mereka selalu gagal panen akibat banjir.
"Ini tanam yang kedua. Yang pertama waktu banjir yang bulan Januari 2025, setelah itu kami tanam lagi, sudah mendekati panen kebanjiran lagi," sebutnya dengan nada sedih.
Adung mencontohkan seorang ketua kelompok tani di wilayahnya bahkan telah mengeluarkan biaya sekitar Rp7 Juta untuk modal bertani di lahan kurang dari dua hektare, namun semuanya terancam hilang akibat banjir.
Pemerintah diharapkan dapat mengambil solusi untuk memberikan subsidi pertanian, mengingat bencana alam seperti banjir merupakan kejadian di luar kendali petani.
Terpisah, Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Siti Farisyah Yana mengakui kalau dari data yang mereka miliki saat ini merupakan siklus tanam bagi petani di bulan Mei hingga Juni. "Kami terus memantau perkembangan di lapangan melalui petugas yang melakukan pembaruan data setiap hari," kata Yana.
DPTPH Kaltim akan melakukan identifikasi terkait dampak banjir dan berupaya memberikan bantuan, terutama benih, agar petani dapat melakukan percepatan tanam kembali setelah banjir surut, dengan harapan kondisi cuaca mendukung pada bulan Juni mendatang.
Editor: Aspian Nur