Fatma menekankan bahwa bantuan sosial semata tidak cukup. Ia menilai perlu ada layanan terapi berkelanjutan seperti fisioterapi, terapi wicara hingga okupasi, agar anak-anak disabilitas khususnya yang masih berusia dini memiliki peluang perkembangan yang optimal.
“Kalau mereka masih kecil, itu akan menjadi lebih baik nanti perkembangannya. Jadi harus ada terapi okupasi, terapi wicara, fisioterapi semua yang dibutuhkan disabilitas,” ujar Fatma.
Kunjungan itu sendiri berlangsung dalam rangka penyerahan bantuan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta senilai Rp38 juta.
Sebanyak 20 penerima manfaat 10 penyandang disabilitas dan 10 lansia mendapatkan bantuan berupa alat bantu, sembako, dan nutrisi. Selain itu, Fatma turut menyalurkan bantuan pribadi melalui Fatma Foundation untuk mendukung usaha kecil para penerima manfaat.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda, Achmad Fauzi Irawan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut.
Sebab hingga kini, Samarinda belum memiliki fasilitas terapi terpadu yang secara khusus melayani penyandang disabilitas dari keluarga prasejahtera.
“Saya akan berkoordinasi dengan wali kota agar pesan dan harapan dari Kemensos bisa terwujudkan,” tutupnya.
Editor: Erwin