Aksi penertiban ini sempat diwarnai kericuhan antara pedagang, mahasiswa pendukung dan petugas. Meski begitu, tim gabungan akhirnya berhasil masuk dan membersihkan area yang sebelumnya dipenuhi lapak-lapak.
Pembongkaran dilakukan sebagai tindak lanjut rencana relokasi pedagang ke Pasar Beluluq Lingau di Jalan PM Noor Samarinda. Namun rencana ini sempat ditolak sebagian pedagang.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Subuh, Abdussalam menegaskan, penolakan mereka bukan tanpa alasan. Ia berharap pemerintah mau membuka ruang musyawarah sebelum melakukan langkah penertiban. “Kalau memang mau ditata, disusun, kami ikut saja. Kami mendukung yang terbaik, tapi jangan dipindahkan,” kata Abdussalam kepada Korankaltim.com disela penertiban pagi tadi.
Abdussalam juga mengaku sejauh ini sosialisasi dari pemerintah hanya melalui undangan kepada ketua paguyuban, tanpa dialog terbuka dengan seluruh pedagang. “Kami ini pedagang kecil, cuma mau cari makan,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda Nurrahmani memastikan relokasi sudah melalui proses panjang sejak beberapa tahun lalu.
“Sejak 2023 kami sudah berkomunikasi. Mereka menyampaikan kebutuhan, kami penuhi, mulai dari lapak, listrik, hingga keamanan,” jelas Yama, sapaan akrab Nurrahmani.
Ia juga menegaskan lebih dari 50 persen pedagang sudah menarik undian penempatan di lokasi baru. “Penertiban ini agar mereka bisa berjualan di tempat yang lebih layak. Ini bagian dari upaya menata kota supaya lebih tertib dan sesuai peruntukan,” sebutnya.
Pemilik lahan sudah mengajukan permohonan penertiban sejak 2014. Meski begitu Disdag tetap mengedepankan pendekatan manusiawi agar pedagang tidak kehilangan mata pencaharian.
Hingga berita ini diturunkan, para pedagang masih berharap pemerintah membuka ruang musyawarah demi menemukan solusi terbaik.
Editor: Aspian Nur