Tak hanya berfokus pada peningkatan fasilitas, proyek ini juga menghadirkan inovasi dalam sistem pendanaannya. Berbeda dari pembangunan infrastruktur pada umumnya, proyek ini akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan nilai investasi mencapai Rp700 miliar.
Dengan skema ini, pembangunan dapat berjalan tanpa bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Proyek ini telah melalui perencanaan matang selama lebih dari 2,5 tahun dan merupakan yang pertama di Indonesia yang berhasil mencapai tahap pelaksanaan dengan skema KPBU,” jelas pria yang akrab disapa AH itu, Jumat (28/3/2025).
Transformasi besar ini mencakup modernisasi infrastruktur serta peningkatan manajemen layanan rumah sakit guna menghadirkan pelayanan kesehatan berstandar internasional bagi masyarakat Samarinda dan sekitarnya.
Tak hanya menarik perhatian publik, proyek ini juga mendapat minat dari lebih dari 10 investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, Pemkot Samarinda akhirnya menunjuk Konsorsium Plenary Health gabungan Plenary Asia Pte. Ltd dan PT Aspen Medical Group Indonesia yang berbasis di Australia sebagai pelaksana proyek.
Pembangunan dijadwalkan dimulai pada 2025 dengan target penyelesaian pada 2026 atau 2027. RSUD IA Moeis diharapkan menjadi pusat rujukan kesehatan utama di Kaltim.
AH juga mengusulkan peningkatan status rumah sakit ini menjadi RS B Pendidikan guna memperluas kapasitas layanan kesehatan di kota tersebut.
“Transformasi ini tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga peningkatan kelas dan layanan agar dapat memberi dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Erwin