Anggota XR Bunga Terung Winda disela aksi menyampaikan, Sungai Mahakam merupakan kebanggaan Kalimantan Timur yang selama ini menjadi sumber kehidupan dan kebudayaan.
"Tetapi saat ini Sungai Mahakam tengah menghadapi ancaman serius. Sungai yang dulu disebut sebagai Tirta Amerta atau air kehidupan itu perlahan-lahan sekarat, tercekik oleh kerakusan eksploitasi sumber daya alam," ujar Winda.
Masyarakat Kalimantan Timur terutama yang tinggal di kawasan Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda tentunya menganggap Sungai Mahakam bukan sekadar sungai.
"Ia adalah Maha Kama, anugerah kehidupan (cinta) yang agung, tempat bergantungnya air bersih, jalur transportasi, perekat budaya, dan habitat ribuan makhluk hidup," jelasnya.
Mahakam dikenal dengan kekayaan airnya yang ditampung di danau-danau dataran banjir seperti Semayang, Melintang, hingga Jempang serta puluhan danau kecil lainnya.
"Sungai ini menjadi rumah bagi 147 jenis ikan air tawar, 298 jenis burung, dan makhluk mitologis yang benar-benar hidup Pesut Mahakam mamalia air tawar yang kini nyaris punah," kata Winda lagi
Namun pesona itu perlahan menghilang. Pada 1970-an, Mahakam pernah dilanda Banjir Kap, banjir kayu gelondongan hasil penebangan hutan tropis. "Sungai Mahakam sekarang tak pernah sepi dari lalu lalang ponton batubara, hutan hujan tropis yang dulu menyuburkan Mahakam kini habis ditebang, selain itu lahan-lahan dibuka tanpa kendali demi tambang, perkebunan sawit, dan pemukiman," jelasnya.
Akibatnya kualitas air menurun drastis, air yang dulu diyakini membawa berkah kini membawa ancaman. "Limbah kayu, batubara, pestisida, hingga sampah domestik mencemari sungai dari hulu ke hilir sumber air bersih warga pun tak lagi terjamin, bahkan setelah diolah oleh PDAM," tegas Winda.
Karena itu mereka menyerukan langkah-langkah konkret, dengan mengembalikan Mahakam sebagai ruang hidup bersama.
"Hentikan deforestasi, alih fungsi lahan dan privatisasi sungai; serta wujudkan ekonomi yang ramah terhadap air dan lingkungan, sebab Sungai Mahakam bukan milik korporat, bukan milik segelintir elit. Ia adalah milik bersama, rumah bagi manusia, tumbuhan, dan satwa. Mahakam adalah cinta yang agung dan cinta itu harus diselamatkan, bukan dibunuh," tutup Winda.
Editor: Aspian Nur