Stigma sosial yang ada di masyarakat sering kali menjadi hambatan bagi anak-anak untuk melaporkan tindakan kekerasan yang mereka alami.
Banyak kasus kekerasan terhadap anak yang tidak terungkap karena anak-anak merasa takut atau malu untuk berbicara mengenai penderitaan mereka.
“Stigma ini sangat menghalangi anak-anak untuk melapor, padahal mereka berhak mendapatkan perlindungan. Ketakutan dan rasa malu sering kali membuat kasus kekerasan tidak terdeteksi,” jelas Puji kepada Korankaltim.com Minggu (9/3/2025).
Sebagai langkah untuk mencegah hal ini, Puji menekankan pentingnya pendidikan dan sosialisasi yang lebih luas mengenai perlindungan anak di masyarakat.
Politisi Partai Demokrat itu mendorong agar program-program perlindungan anak disosialisasikan lebih intensif agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cara melindungi anak-anak dari kekerasan.
“Sosialisasi yang lebih luas sangat diperlukan agar masyarakat tahu bagaimana cara melindungi anak-anak serta mencegah terjadinya kekerasan terhadap mereka,” jelas Puji.
Puji juga mengusulkan agar dinas terkait lebih gencar memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah, terutama di tingkat SD dan SMP.
Menurutnya, pendidikan mengenai bahaya kekerasan seksual yang diberikan sejak dini dapat menjadi bekal bagi anak-anak untuk melindungi diri mereka sendiri.
“Anak-anak perlu diberikan pemahaman tentang bahaya kekerasan seksual dan cara melindungi diri. Sekolah adalah tempat yang tepat untuk mendidik mereka,” paparnya.
Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan seluruh masyarakat harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak.
“Masyarakat harus bekerja sama dengan keluarga untuk menciptakan ruang yang aman, di mana anak-anak bisa tumbuh dengan baik tanpa adanya kekerasan,” pungkas Puji.
Editor: Aspian Nur