Religi Center tersebut terletak di Jalan Jakarta I, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, tepatnya di sebelah SMP Negeri 38 Samarinda.
Hal ini disoroti oleh Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Sungai Kunjang (HIPMASKU) Arianto. Menurutnya, ketidakjelasan proyek ini perlu mendapat perhatian serius dan pihak terkait harus memberikan pertanggungjawaban.
“Dulu proyek ini dibangun dengan klaim untuk kepentingan sosial dan keberagaman. Tapi sekarang, justru terbengkalai. Siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan alasan sementara kepentingan lain bermain di balik ini,” tegasnya, Jumat (21/2/2025).
Menurutnya, kondisi Religi Center yang tidak selesai bukan hanya mencerminkan kegagalan perencanaan, tetapi juga menunjukkan buruknya pengelolaan anggaran dan komitmen pemerintah terhadap fasilitas sosial.
Apalagi, dikatakan Arianto jika proyek yang seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat kini malah berubah menjadi bangunan kosong tanpa manfaat.
“Kami ingin tahu, kenapa proyek ini mangkrak? Apakah karena anggaran yang tidak dikelola dengan baik, atau ada kepentingan lain yang membuatnya dibiarkan terbengkalai?” tambahnya.
HIPMASKU menilai bahwa ketidakjelasan ini semakin memperlihatkan bagaimana kebijakan publik sering kali dibuat tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Jika Religi Center benar dibutuhkan, maka harus ada langkah konkret untuk menyelesaikannya, bukan hanya janji-janji politik yang akhirnya tidak ditepati.
“Pemerintah harus transparan. Jangan hanya membangun lalu meninggalkan tanggung jawabnya. Jika memang ada kendala, sampaikan ke publik. Jangan biarkan ini jadi bukti baru kegagalan pengelolaan kota,” tutupnya.
HIPMASKU berjanji akan terus mengawal isu ini dan menekan pemerintah agar memberikan solusi konkret sehingga masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban proyek mangkrak tanpa kejelasan.
Editor: Erwin