Longsoran tanah disertai pohon yang ikut tumbang membuat lalu lintas sempat menghambat pengendara yang lewat terlebih lagi terjadi di puncak Gunung Manggah dengan tanjakan cukup tinggi.
Gerak cepat dilakukan Pemerintah Kota Samarinda dengan menurunkan alat berat untuk menepikan tumpukan tanah ke tepi dan itu terus dilakukan hingga Selasa (11/2/2025) hari ini dimana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menurunkan ekskavator mengatasi longsor tersebut.
Kepala BPBD Samarinda Suwarso kepada Korankaltim.com disela pembersihan longsor menjelaskan, sejak sepekan lalu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sudah sudah menurunkan alat untuk membersihkan longsoran namun belum tuntas. “Sejak pekan lalu sudah dikerjakan oleh PUPR tapi karena curah hujan tinggi, sehingga terjadi penurunan tanah lagi,” jelas Suwarso.
Dengan kembali turunnya tanah karena curah hujan tinggi mengakibatkan jalanan licin dan penyempitan badan jalan.
BPBD bersama PUPR turun untuk mengurangi longsoran juga memotong pohon yang tumbang imbas longsoran karena beresiko mengganggu pengguna jalan. “Jalur jalan ini padat, sering terjadi kemacetan. Harapannya hari ini cuacanya sampai sore bagus, jadi bisa selesai dihari yang sama,” ucapnya.
Suwarso juga menyampaikan permohonan maafnya, karena adanya musibah dan pengerjaan yang pasti mengganggu lalu lintas. Longsor yang terjadi sejak sepekan lalu tak bisa langsung diatasi tuntas karena ekskavator dari BPBD dan PUPR dipakai dititik lainnya. “Memang sejak sepakan lalu tapi untuk mesin dipergunakan menangani longsor dibeberapa titik lainnya. Awalnya mesin kami di Jalan Magelang, disana sudah kurang, jadi kamu perioritaskan disini,” jelasnya.
Dari kajian risiko, Gunung Manggah masuk dalam berisiko longsor sedang sampai tinggi, termasuk jenis tanahnya juga berpasir, sehingga mudah tergelincir.
Maka dari itu, untuk penanganannya, mantan Camat Palaran itu berharap ada penurapan untuk sisi longsoran tersebut. “Atau sejenisnya lah untuk penanganan. Tapi melalui kajian kan, biasanya konsultan mengukur dulu, tepatnya apakah retaining wall (dinding penahan tanah) atau bronjong,” papar Suwarso.
Sekadar diketahui, bronjong atau gabion adalah konstruksi penahan tanah yang terbuat dari anyaman kawat baja dan diisi dengan batu-batu besar.
Editor: Aspian Nur