Pernyataan ini disampaikan terkait jalan penghubung menuju Pelita 3 yang ambrol beberapa waktu lalu, padahal peresmiannya belum genap satu tahun.
“Kelemahan kita ada diperencanaan, dan itu menjadi evaluasi. Kami menerimanya bahwa memang kurangnya kehati-hatian,” kata pria yang akrab disapa AH itu belum lama ini.
Berbeda dengan pengerjaan bangunan, AH mengakui prediksi Dinas PUPR Kota Samarinda terkait jalan air di bagian bawahnya memang meleset.
Dalam perencanaan ini tidak dilakukan uji sondir detil atau uji tekanan untuk mengukur kedalaman lapisan tanah, seperti yang biasanya dilakukan pada proyek flyover atau terowongan.
“Kami sampaikan permohonan maaf pada masyarakat karena kejadian ini. Kami langsung bergerak untuk menyelesaikan permasalahan ini,” ucapnya.
AH meminta pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya dapat lebih teliti, khususnya pada perencanaan awal. Ia pun meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda untuk melakukan analisis bencana untuk daerah lainnya guna meminimalisasi longsor lanjutan.
“Kita harus terbuka menerima itu, jadi karena kawasan itu dulunya jurang, sehingga volume tanah tidak sesuai dengan kapasitas tekanan fungsi, maka longsor,” tegasnya.
Meski begitu, dia juga sudah menegur dan memastikan langsung bagaimana kondisi longsor dan penanganan serta pengerjaan ulangnya.
Hal itu dilakukannya untuk memastikan perencanaan dari penanganan pasca longsor bisa benar-benar tepat dikemudian hari.
Editor: Erwin