Berdasarkan hasil peninjauan pada Senin (13/1/2025) lalu, progres pengerjaan telah mencapai 96 persen. Artinya hanya tersisa 4 persen untuk tahap pertama dengan alokasi anggaran sekitar Rp450 miliar.
Untuk tahap kedua pada tahun 2025, Pemkot Samarinda juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp152 miliar.
“Iya 96 persen untuk tahap pertama ini, jadi sisanya 4 persen. Nanti akan ada tahap kedua,” kata Desy, Rabu (15/1/2025).
Proyek pembangunan Pasar Pagi tahap pertama diprediksi akan tuntas di Mei mendatang sehingga dicanangkan akan kembali manfaatkan pada Juli 2025. Sebelum dimanfaatkan nantinya akan ada tim dari penilik bangunan akan memastikan apakah proyek itu sudah sesuai dengan perencanaan awal. Pengecekan terdiri dari struktur bangunan serta analisis dampak lingkungan.
“Bapak (Wali Kota Samarinda) sih mintanya kalau bisa di Juli itu sudah selesai semua dan bisa dipakai,” imbuhnya.
Terkait keberadaan anak sungai pada bagian bawah bangunan, Desy memaparkan berdasarkan rencana awal akan dijadikan taman, selama beberapa ruko yang ada di Jalan Mas Tumenggung masih berdiri.
“Tapi kalau sisi Jalan Mas Tumenggung itu bisa kita pergunakan melalui proses BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah), bisa membebaskan dalam waktu satu tahun, itu akan menjadi bangunan lagi sampai ke posisi jalan,” bebernya.
Disinggung mengenai upaya pemerintah dalam pembebasan lahan ruko SHM di Jalan Mas Tumenggung, Desy menunjukkan gestur tangan mengepal sebagai tanda semangatnya untuk terus memperjuangkan pembebasan lahan tersebut.
Meskipun sejumlah pemilik ruko menolak pembebasan sejak awal 2024, Pemkot tetap berusaha agar pembangunan Pasar Pagi dapat berjalan sesuai dengan desain awal.
Diketahui, Pasar Pagi akan dilengkapi dengan dua pintu, yakni di sisi Jalan Gajah Mada dan Jalan Jenderal Sudirman, untuk mengatur jalur keluar-masuk kendaraan sehingga tidak terjadi penumpukan.
Editor: Erwin