Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda melalui Analis Kebencanaan Ahli Muda Hamzah menjelaskan kepada Korankaltim.com Rabu (25/12/2024) hari ini kalau saat ini sudah memasuki fenomena La Nina, yang mana suhu permukaan Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin dibandingkan suhu normal.
“Akibatnya seperti yang belakangan terjadi di Samarinda, hujan dan angin kencang yang menurut BMKG akan berlangsung sampai bulan Mei tahun depan, hampir enam bulan,” jelas Hamzah.
BPBD Samarinda juga melakukan antisipasi menghadapi fenomena alam tersebut, diantaranya siaga darurat bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “Kalau bencana yang menyertai dalam kondisi sekarang ini diantaranya banjir, longsor dan cuaca ekstrem juga pohon tumbang,” tutur Hamzah.
Karena kesiapsiagaan dari BPBD Samarinda itulah tidak ada kepanikan kalau bencana alam terjadi, seperti pekan lalu ada tujuh titik pohon tumbang yang bisa dengan cepat ditangani, ditambah dengan kesiapan peralatan yang tersedia di 20 kelurahan di Samarinda.
Tujuh lokasi pohon tumbang yang terjadi pada hari Minggu (22/12/2024) lalu diantaranya di Lubuk Sawah, Lempake, Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Bhayangkara, Jalan Pelita dan di Samarinda Seberang.
“Setiap relawan sekarang ini diberi alat chainsaw, jadi kalau ada pohon tumbang tidak perlu lagi menunggu dari relawan yang punya alat itu untuk memotong pohon karena memakan waktu,” papar Hamzah.
Chainsaw itu sendiri diungkapkan Hamzah sudah ada di 21 kelompok relawan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Samarinda.
Editor: Aspian Nur