Hal itu juga pernah dikeluhkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda. Di mana, waktu proses pemrosesan sampah sudah banyak habis dipemilahannya.
Apalagi dengan banyaknya penduduk dan penambahan yang terus terjadi, penumpukkan akan semakin banyak sehingga sulit diproses secara keseluruhan. Kunci dari pengelolaan sampah ini berada di masyarakat. Sehingga, seharusnya tidak ada warga yang tidak terlibat dalam pengelolaan sampah.
Tak hanya pemilahan dari rumah, dia juga mendorong warga untuk bisa mengolah sampah menjadi sesuatu yang menguntungkan.
“Ditambah dengan komersialisasi, ini untuk membuat sampah menjadi bernilai ya memang harus yang menguntungkan. Karena jika tidak menguntungkan pasti masyarakat tidak semangat,” kata Rusmadi, Selasa (3/12/2024).
Ribuan ketua RT yang ada di Kota Samarinda, diharapkan bisa mengajak seluruh warganya, supaya bisa memanfaatkan dan mengelola sampah untuk bantu kurangi beban TPA.
Rusmadi juga menyadari masyarakat yang masih enggan dengan penanganan sampah. Anak-anak muda yang memiliki pemikiran kreatif juga diajakn turut serta dalam pengelolaan dan pemanfaatan ini.
Tokoh masyarakat, keagamaan, dan pemerintahan ditingkat paling bawah bisa menjadi pihak pemula dalam menerapkan disiplin sampah ini.
“Satu saja jadi contoh masing-masing RT, mulai dari dia mengolah sampahnya sendiri, kemudian sebelum dibuang ke TPS sudah dipilah terlebih dahulu, maka lama kelamaan banyak yang ikut,” jelasnya.
Sebelumnya, DLH Samarinda juga rutin memberikan penghargaan pada Kampung Salai atau Kampung Pengolahan Sampah yang Bernilai, dengan memberikan reward dan uang pembinaan bagi mereka yang menang.
Langkah ini cukup strategis dan dirasa mampu membantu DLH dalam penanganan sampah di tahun-tahun yang akan datang.
Editor: Erwin