Sebagian kawasan Sungai Lembang yang memiliki lebar sekitar 10 meter berubah jadi tanah lumpur dan imbasnya ada tiga rumah warga sekitar terdampak, mengalami kerusakan dengan empat kepala keluarga (KK) dan total 19 jiwa harus dievakuasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda bersama TNI dan Polri juga Tim SAR Gabungan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Kepada Korankaltim.com Selasa (22/10/2024) sore tadi, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Samarinda Hamzah mengungkapkan kalau peristiwa itu bukan fenomena yang langka dan bisa terjadi kapan saja.
“Wajar terjadi karena pembebanan, karena kawasan itu ada sirtu, bahan galian yang merupakan campuran antara pasir dan batu yang berada diatas DAS (Daerah Aliran Sungai,” jelas Hamzah.
Di kawasan tersebut disebutnya memang ada perusahaan yang
Diketahui di lokasi tersebut, ada perusahaan yang bergerak di bidang sirtu. Karena berada diatas DAS, otomatis bagian bawahnya hanya aluvial atau jenis tanah yang terbentuk karena endapan dan bukan batu sehingga memang mudah untuk bergerak.
“Makanya kalau rumah kayu sebenarnya aman saja karena tidak berat. Yang jadi persoalan itu perusahaan penimbun sirtu sampai membentuk gunung,” paparnya.
“Karena berat itulah secara perlahan tanah naik ke permukaan. Sebetulnya itu tidak secara tiba-tiba. Perlahan ada kenaikan diarah sungai, disisi timbunan amblas tapi puncaknya malam tadi,” ujar Hamzah lagi.
BPBD sudah datang malam tadi namun tak bisa melihat dengan jelas sehingga baru pagi tadi bisa melanjutkan tugas mereka.
“Kami juga sudah terbangkan drone untuk melihat seberapa jauh pengaruhnya dan sudah meminta ke perusahaan untuk mengatasi,” tuturnya.
Pihak perusahaan kooperatif dan mereka juga eksavator untuk mengeruk tanah dan mengembalikan aliran sungai yang dipenuhi tanah.
BPBD Samarinda juga sudah meminta perusahaan memindahkan timbunan sirtu ke tempat yang lebih aman. Sebab apalagi masih ditempat semula, makan akan membebani aluvial, yang berisiko menaikkan tanah lagi.
Editor: Aspian Nur