Nasaruddin Umar memaparkan, Rasulullah SAW dalam suatu kesempatan pernah menerima tamu sebanyak 80 orang lintas agama.
"Yang dipimpin oleh seorang yang berasal dari Kristen Ortodoks, dan dari semuanya ada yang beragama Zoroaster, Yahudi. 80 orang ini menunggu sembari berdiri Rasulullah selesai menunaikan salat," ujar Nasaruddin.
Usai menyelesaikan salat Rasulullah langsung mundur kebelakang dan mempersilahkan tamu lintas agamanya duduk.
"Para tamu ini disuguhi makanan dan minuman di masjid Rasulullah. Kemudian menjelang matahari terbenam salah satu peserta menginterupsi kepada Rasulullah dan mengadu belum melakukan kebaktian," ucapnya.
Rasulullah mengatakan di daerah tersebut tidak ada tempat ibadah yang lain, dan menyuruh peserta tersebut melakukan kebaktian di sekitar masjid.
"Walaupun ini juga masih ada 2 pendapat, ada yang mengatakan (peserta) itu melakukan kebaktian di masjid dan ada yang mengatakan di area masjid," cerita Nasarudin.
Dengan adanya kisah ini bisa menjadi poin bahwa orang-orang non muslim yang datang ke masjid suatu hal yang biasa sejak masa Rasulullah, bukan hanya berdialog tetapi sampai melakukan ibadah.
"Sehingga pentingnya dialog dalam Al-Qur'an, Allah SWT mencontohkan bahwa dialog itu amat sangat penting. Maka bagi orang yang tidak senang dengan dialog maka tidak senang dengan kebiasaan Allah," jelasnya.
Apalagi Rasullullah berdialog bukan hanya kepada orang dewasa tetapi anak kecil pun di ajak berdialog.
"Setiap kali Rasulullah bertemu anak kecil selalu mengusap kepalanya, dan sekitar 500 orang mengaku dicintai Rasulullah melalui dialog. Jadi kalau ada umat atau orang Islam yang dilarang untuk berdialog tidak mencontoh Rasulullah,” tutupnya.
Seminar Internasional bertajuk Implementasi Nilai Al-Qur’an untuk Membangun Perdamaian dan Peradaban Dunia diisi Rektor UINSI Samarinda Prof Dr Zurqoni, Deputy Dean Faculty Of Usuludin University Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam dan Dr Haji Ahmad Baha Bin Haji Mokhtar.
Editor: Aspian Nur