Kegiatan yang digelar oleh Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bekerja dengan Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM) dilaksanakan di Bogor pada tanggal 2 hingga 4 September.
Zulhamri mengaku sebenarnya saat mengikuti kegiatan ini dirinya mengakui adanya informasi atau pengumuman yang ada di grup-grup WhatsApp.
"Saya coba mendaftar, dengan membuat tulisan dan mengirimkan tulisan itu dengan mengangkat isu terkait lahan masyarakat yang masuk plasma itu tidak diberikan hak-nya yang ada Kabupaten Kutai Timur," ujar Zulhamri.
Dengan mengangkat isu dengan judul Merasa Hak Tidak Diberikan, Kelompok Masyarakat Kutim Mengadu ke Jakarta, ternyata tulisannya mendapatkan hal positif dan dianggap menarik oleh tim seleksi. "Sehingga itu menjadi satu faktor dan point-nya perkebunan kelapa sawit berkelanjutan," tuturnya.
Sebagai perwakilan dari Kaltim dan membawa nama media Koran Kaltim Zulhamri merasa terharu dan tidak menyangka. "Iseng-iseng menuliskan isu yang dirasakan masyarakat kok bisa lolos dan intinya menjadi kebanggaan tersendiri selain itu membawa nama Koran Kaltim juga bisa eksis lah di skala nasional, sebab ini terbuka untuk umum se-Indonesia dan yang layak diambil 10 orang terbaik," paparnya.
Setelah kegiatan tersebut berlangsung dalam tiga hari kedepan ia beserta 9 orang lainnya akan digembleng untuk mengikuti pelatihan bisa membawakan pengetahuan baru yang bermanfaat khususnya dalam peliputan.
"Karena mendapatkan beasiswa ini tidak instan, setelah pelatihan ini kami juga akan menjalankan tugas terkait isu yang kami usulkan guna mengembangkan dan mendalaminya dalam waktu sebulan kemudian dipublish di media masing-masing," pungkas Zulhamri. (*)
Editor: Aspian Nur