Hal itu dibuktikan dengan kemacetan parah yang kerap terjadi di setiap kawasan Kota Tepian, utamanya pada jam-jam sibuk pagi, siang dan sore hari bahkan malam hari saat akhir pekan.
Karena itulah Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda Hotamrulitia Manalu menyatakan Samarinda sudah wajib memiliki transportasi umum dan meminimalkan penggunaan transpotasi pribadi.
Sat Ibu Kota Nusantara (IKN) diresmikan, akan ada banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdatangan ke Kalimantan Timur dan kondisi itu tentunya berpengaruh pada penggunaan transportasi terutama darat baik itu motor maupunmobil.
"Ketika nanti IKN sudah mulai beroperasi dan seluruh pegawai yang bertugas di IKN tinggal dan ngantor disana, tempat hiburan mereka paling ke Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda," ucap Manalu kepada Korankaltim.com Senin (5/8/2024). "Dengan tingkat volume kapasitas rasio ruas-ruas jalan di Samarinda ini sudah cukup tinggi dengan kendaraan pribadi. Bisa dibayangkan bagaimana padatnya nanti," lanjutnya.
Dishub Samarinda memberikan usulan terkait minimalisir kemacetan lalu lintas yaitu dua koridor baik itu trayek utama dan dua trayek feeder. Feeder ini akan menghubungkan dari ruas jalan lingkungan untuk disambung ke trayek utama.
Pada feeder ini akan berupa armada kecil seperti kodel angkutan kota (angkot) saat ini sementara yang ingin dibatasi Dishub Samarinda saat ini adalah skema membeli layanan rupiah per kilometer. "Jadi operator yang menyediakan angkutannya, mengoperasionalkan juga, kami hanya dari sisi pembayaran rupin per kilometer," papar Manalu.
Selain itu Dishub juga bakal menerapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM), mulai dari ketika suhu di Samarinda mencapai 35 derajat, maka pihaknya mau didalam angkutan suhunya turun sekitar 24 derajat. Tetapi, jika SPM yang sudah ditetapkan ini tidak dilaksanakan, maka Dishub bakal kenakan penalti pada operator tersebut.
Trayek yang telah diusulkan adalah 1A dan 1B. Pada trayek 1A dengan rute Terminal Pasar Pagi ke Terminal Lempake, dengan panjang 25,72 kilo meter. Sedangkan untuk trayek 1B ini memiliki rute yang sama dengan trayek 1B, namun memiliki panjang 22,50 kilo meter.
"Hanya terkait dengan ada perubahan beberapa ruas jalan yang istilahnya dari A ke B dan B ke A. Kalau feedernya nanti akan kami sambungkan ke trayek utama tersebut," pungkas Manalu.
Editor: Aspian Nur