Menurutnya, aktivitas semacam ini yang telah terjadi puluhan tahun tentu memberikan dampak serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat Kaltim.
"Selain kerusakan alam yang ditimbulkan, faktor lainnya juga sampai sekarang belum berubah ada pada kemiskinan masyarakat, stunting, jalan rusak, sumber daya manusia yang belum merata, hingga fasilitas yang kurang memadai di tiap daerah," kata Purwadi, Rabu (19/6/2024).
Padahal jelasnya, sumber daya alam (SDA) Kaltim yang dikeruk sangatlah banyak, tetapi tidak sebanding dengan hasil yang bisa dimanfaatkan dan diperoleh oleh pemerintah untuk membangun daerah. Menurutnya, sistem ekonomi yang dianut Kaltim sejauh ini juga masih ekonomi tradisional, bagaimana Kaltim masih terus mengandalkan pengelolaan SDA yang ada.
"Dulu kayu sempat menjadi sektor terbesar bagi Kaltim, kemudian setelah kayu menipis beralih lagi ke batu bara. Kemudian ada kelapa sawit yang menjadi andalan Kaltim, tetapi memang untuk sawit ini tidak bisa bertahan lama juga sebab ada pengaruh kesuburan tanahnya," jelasnya.
Lalu dari beberapa faktor tersebut, Purwadi mengungkapkan bahwa pemerintah daerah provinsi Kaltim harusnya tidak merasa bangga, sebab APBD di Kaltim sejauh ini pun masih berasal dari pemerintah pusat.
"Khususnya dengan bagi hasil sumber daya alam, dan bagaimana cara bertransformasi dari pemanfaatan SDA yang ada, karena selama ini jika proses pengelola SDA di Kaltim masih sama, berarti proses eksploitasi di Kaltim akan terus berlanjut," tuturnya.
Mengingat kondisi yang seperti ini, Purwadi mendorong agar calon kepala daerah mulai bisa memikirkan tranformasi ekonomi di masa depan, baik melalui peningkatan pariwisata, ekonomi kreatif, pertanian serta sektor jasa.
"Jadi jika Gubernur Kaltim yang akan datang hanya andalkan SDA yang di keruk terus hutan di tanam sawit, dan tidak berani lawan tambang illegal, maka sama saja dengan Gubernur Kaltim yang lalu-lalu. Istilah seperti "kaset baru, lagu lama" cuma ganti cover doang," tegasnya.
Apalagi menurutnya selain ekonomi, dampak yang sangat terasa di masyarakat dalam pengelolaan SDA semacam ini pada kerusakan lingkungan mulai dari bencana banjir, tanah longsor, hutan gundul, bahkan susahnya air bersih.
Editor: Maruly Z