Rapat tersebut membahas progres program penurunan angka stunting di Samarinda dan realisasi program kerja 2024. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sani Bin Husain menyampaikan, ada tiga pembahasan, yakni terkait progres penurunan, kendala dan menggali potensi agar program itu bisa cepat berjalan.
“Rentan waktu dari Januari sampai sekarang mereka sudah berhasil turun dari 25 (persen) ke 24, dan itu sudah sangat bagus sekali. Kita sadari karena pekerjaan ini ‘kan simultan, tidak bisa hanya satu pihak, dan turun satu persen sudah sangat bagus, menurut saya,” ungkap Sani.
Bahkan ada beberapa kabupaten/kota lain yang mengalami kenaikan, dia justru mengapresiasi kinerja dari DPPKB karena bisa menurunkan angka stunting. Sani juga menyayangkan adanya orang tua yang lebih mementingkan untuk membeli rokok ketimbang makanan yang bergizi untuk anaknya sejak dalam kandungan.
Kendati demikian, politisi Fraksi PKS itu juga bangga karena Posyandu mampu memberikan makanan tambahan pada ibu hamil dan snack untuk para balita sebagai bentuk pencegahan terhadap stunting.
“Banyak orang tua yang dia bisa beli rokok, tapi beli susu dia tidak mampu. Itulah pentingnya ke Posyandu untuk cek kesehatan, kemudian juga mendapatkan makanan tambahan,” bebernya.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Damayanti mengapresiasi jika memang angka stunting di Samarinda ini mengalami penurunan dari 25,3 persen ke 24,5 persen. “Artinya ini adalah satu apresiasi dari kita berikan pada pemerintah kota (Pemkot) mengingat, sebelumnya angka stunting Kota Samarinda se-Kalimantan Timur (Kaltim) ada diposisi kedua,” bebernya.
Namun dengan kerja keras dan kerja sama yang baik, akhirnya bisa menurunkan Samarinda ke posisi keenam dalam kasus stunting ini. Selain memberikan apresiasi, dirinya juga meminta DPPKB untuk memenuhi beberapa target yang sudah dicanangkan sejak awal.
“Misalnya bisa mencapai 14 persen pada akhir 2024 itu untuk stunting ini. Ini tadi di 2023 dengan tahun ini, artinya kita masih ada jangka tujuh bulan, kita doakan dan perlu adanya kerja sama untuk mencapai target itu,” urainya.
Perlu diketahui, angka stunting ini adalah data dari pemerintah pusat, sehingga Pemkot dan pihaknya di dewan juga belum mengetahui secara pasti angka yang sebenarnya. Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Samarinda, I Gusti Ayu Sulistiani menyebutkan terdapat beberapa hal yang menjadi tantangan pihaknya dalam upaya penurunan angka stunting di Samarinda.
Salah satunya kesadaran orang tua terhadap pentingnya membawa anak-anak bayi dan balita untuk ke Posyandu. Ditambah, pihaknya masih kesulitan mendapatkan data balita yang dibawa cek kesehatan di dokter spesialis anak atau ke bidan. “Di Samarinda ini ada sebanyak 63 ribu balita, tetapi yang dibawa ke Posyandu itu hanya sekitar 30 persennya saja. Itu di luar yang datang ke dokter spesialis anak atau bidan,” terangnya.
Editor: Maruly Z