Area gua diperkirakan berada di ketinggian sekira 150 meter di atas permukaan laut. Selain Goa Angin, terdapat pula juga Gua Patung dan Gua Tengkorak. Di dalam gua, Akmal Malik juga menyaksikan keindahan ornamen stalaktit dan stalakmit.
Warga lokal mengatakan ada sejumlah arca yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Kutai abad ke-4 di gua itu. Tapi, sebagian arca itu kini disimpan di Museum Mulawarman menyusul perusakan sebagian arca oleh para pengunjung sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur diminta menggelar ajang promosi wisata seni dan budaya agar lebih mengenalkan Gua Kongbeng.
Satu acara yang menjadi contoh adalah pengibaran bendera merah putih dalam ukuran besar di puncak gunung karst yang bisa dilakukan lewat kerja sama dengan komunitas panjat tebing.
Namun Akmal menyoroti keberadaan toilet yang tidak terdapat pada kawasan Goa Kongbeng, padahal lokasi itu terus dikunjungi masyarakat. “Sayang sekali. Tempatnya bagus, tapi tidak ada toilet. Akhirnya pengunjung kencing sembarangan,” ujar Akmal melansir dari Antaranews.com Senin (22/4/2024) hari ini.
Usai mengunjungi Goa Kongbeng, Akmal Malik juga menyambangi Goa Maria. Lokasinya hanya beberapa menit menggunakan kendaraan dari Goa Kongbeng. Akmal sangat mengagumi rapatnya endemis pepohonan Kaltim di kawasan Goa Maria. Ada pohon ulin, kapur, bangkirai dan lainnya.
Saat peninjauan goa di kawasan Gunung Kongbeng Akmal Malik didampingi Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Forkopimda Kutim, bersama tokoh masyarakat setempat.
Editor: Aspian Nur