Menurut keterangan salah seorang rekan kerjanya, Akbar (25) bahwa awalnya almarhum ini menghubungi mandornya bernama H Maman melalui pesan suara di WhatsApp yang meminta untuk datang ke indekosnya tersebut.
Lantaran takut terjadi sesuatu dengan almarhum, akhirnya sang mandor membawanya serta satu rekannya bernama Rendi. "Sebenarnya dia (almarhum) ini hubungin mandor saya lewat pesan suara, terus dia ajak sama-sama teman saya. Sampai di sana dia masih ngobrol sama H Maman, dan bilangnya sakit di dada, terus haji bilang ayo ke rumah sakit, tapi dia gak mau," ungkapnya.
Tak lama hendak diajak ke rumah sakit untuk berobat, tiba-tiba almarhum tak sadarkan diri di depan rekan kerjanya. "Gak lama keluar itu air liur dari mulutnya, itu sudah gak sadarkan diri, posisinya tidur menyamping sambil peluk guling, ternyata di situ sudah tidak ada (meninggal dunia)," pungkasnya.
Sementara itu, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary Fadli melalui Kapolsek Samarinda Kota, Kompol Tri Satria Firdaus mengatakan, dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) awal, oleh Polsek dan Inafis, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum.
"Diduga korban meninggal karena sakit, dan juga ditemukan obat-obatan yang dikonsumsi oleh almarhum, juga keterangan dari rekan sekerjanya yang saat didatangi sempat mengeluh sakit di dada," ungkapnya.
Selanjutnya jenazah pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I.A.Moeis, dengan menggunakan ambulans milik Inafis Polresta Samarinda guna dilakukan visum.
"Jenazah dibawah ke RS Moeis untuk dilakukan visum, kemudian diserahkan kepada pihak keluarga nya, untuk dimakamkan," pungkasnya.
Editor: Maruly Z