Keluhan tersebut terkait antrean yang semakin panjang terutama untuk kendaraan roda empat pada malam haridi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dibeberapa titik, sementara untuk kendaraan roda dua antrean relatif tidak terlalu panjang.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda Abdul Rohim kepada Korankaltim.com Kamis (14/12/2023) hari ini menyampaikan masuknya keluhan tersebut. “Pengendara roda empat yang muslim terhambat ibadah salat Maghrib-nya karena harus mengantre di SPBU. Ini harus dievaluasi, jangan sampai kebijakan yang dibuat tidak dipantau,” kata Rohim.
Dalam sebuah aturan dan kebijakan pasti ada trial atau uji coba dan eror atau kesalahannya padahal kebijakan ini bertujuan mengurai kemacetan pada jam padat.
Jam padat tersebut pada pukul 07.00 WITA -08.00 WITA pagi hari jadwal berangkat sekolah dan kerja sementara pukul 15.00 WITA dan 18.00 WITA jadwal pulang.
“Di tengah-tengah itu ada jadwal kosong, bisa dipertimbangkan memindah waktunya untuk mencegah antrean malam, jangan sampai tidak ada monitoring dan evaluasi,” tegasnya.
Selain antrean lebih panjang, pengendara roda empat juga harus menunggu semakin lama, karena itu Rohim menyarankan Dinas Perhubungan Samarinda selaku yang berkompeten mengeluarkan kebijakan peraturan tersebut agar bisa menambahkan antrean dari jam sembila pagi hingga pukul 14.00 WITA atau jam dua sore.
Antrean yang ada menurutnya mungkin tidak hanya difokuskan pada malam hari tetapi pada siang hari juga bisa. “Kami tidak tahu cara mengambil keputusan sepeti apa tapi katanya melalui rapat dengan Pertamina dan pemerintah kota. Kami belum ketahui apakah efektif atau tidak,” paparnya.
Kalau pada kenyataannya kebijakan tidak efektif sebaiknya segera dilakukan evaluasi dan tak dibiarkan berlarut-larut. Politisi PKS mengatakan membuat kebijakan untuk mengurai antrean hanya menyelesaikan dampak, tapi tidak menyelesaikan penyebab masalah.
“Karena jika hanya fokus pada antrean, maka itu sementara saja sedangkan sumber masalah utama ada di kuota atau distribusinya, plat kendaraan luar daerah banyak yang mengambil dari Samarinda karena merupakan daerah penghubung,” tutup Rohim.
Editor: Aspian Nur