Warga mengeluhkan kebisingan karena industry pengolahan limbah plastic berada di tenga pemukiman warga. Sudah pun dilakukan pertemuan beberapa kali namun belum juga ada perdamaian dari warga dan pengusaha.
Saat tiba di lokasi warga yang bermukim di sekitar kawasan industry tersebut langsung mengutarakan keluhan mereka.
“Kalau limbah tidak ada, kemarin kami juga sudah melakukan pertemuan, kami uji data tapi memang tidak bisa diputuskan makanya hari ini kami ke lapangan melihat sejauh mana kebisingannya,” kata Ketua Komisi III DPRD Samarinda Angkasa Jaya Djoerani kepada Korankaltim.com disela peninjauan siang tadi.
Setelah berada di lapangan, mereka melihat langsung industri ini berada beberapa meter dari rumah warga. Awalnya memang terbuka, namun berdasarkan rekomendasi dari DLH untuk membangun dinding, kebisingan tetap tidak bisa diredam.
“Permintaan dari pemerintah sudah mereka penuhi untuk akar permasalahannya karea terkait dengan kebisingan,” jelasnya.
Kendati demikian, ternyata masalahnya tidak dari itu, terdapat persoalan sosial. Menurutnya ada masalah sentimen warga kepada pemilik yang baik saat rapat dengar pendapat (RDP) maupun kunjungan, warga melapor saat mereka gotong royong, mereka meminta lampu, namun lampunya ditarik ke dalam. “Karena terjadi konflik kebatinan, pemilik ini bawa aparat, bukan disengaja karena ketakutan,” ungkap Angkasa.
Dewi Santi, warga Mangkujenang yang tinggal sekitar 20-30 meter dari tempat tersebut merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Warga katanya sudah beberapa kali melakukan protes langsung ke lokasi pengolahan atau mencari jalan damai. “Tapi mereka (pihak pengusaha) mendatangkan personel Gegana buat pengamanan, kami tentu heran kenapa kok sampai bawa Gegana dan TNI segala. Kami pakai tangan kosonga saja,” sebut Santi.
Santi bahkan mengaku suaminya dan beberapa orang warga yang memprotes sempat nyaris dibawa ke Polsek Palaran namun akhirnya bisa didamaikan.
Editor: Aspian Nur