Mereka langsung melakukan evakuasi terhadap hewan buas tersebut malam ini dimana diketahui harimau yang memangsa Suprianda itu dipelihara seorang pengusaha di kediamannya yang jadi lokasi kematian pria 27 tahun tersebut sekitar pukul 11.00 WITA siang tadi.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur M Ari Wibawanto menjelaskan, mereka mendapatkan informasi ada kejadian orang yang diterkam harimau dan langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dimaksud. "Kami dapat laporan dari teman dan juga pihak kepolisian, makanya saya sama tim langsung ke lokasi," kata Ari kepada Korankaltim.com di lokasi kejadian.
Harimau disebutnya merupakan hewan buas dan yang menerkam Suprianda diduga jenis harimau dari Sumatera, tetapi untuk memastikan segera dilakukan tes DNA terlebih dahulu. "Kalau kasat mata, dugaannya harimau Sumatera, tetapi pastinya akan kami tes DNA dulu , termasuk dengan usianya. Harus dilihat dari struktur giginya. Tinggi harimau itu satu meter dan panjang 1,5 meter," papar Ari lagi.
BKSDA Kalimantan Timur melakukan evakuasi dibantu pihak-pihak terkait. "Rencana malam ini akan dievakuasi tapi karena ada kendala dilakukan besok dan diantar ke lembaga konservasi kami yang ada di Tabang, Kutai Kartanegara. Disana akan diobservasi, diambil sampel darah dan lainnya," sebut Ari.
Sementara untuk sampel yang diambil nantinya akan dilakukan tes di Jakarta. "Akan dibawa ke Jakarta, hasilnya bisa keluar sekitar satu minggu paling lama," jelasnya.
Ari pun menjelaskan harimau bukan satwa domestik, seperti anjing dan kucing, melainkan satwa yang hidup di alam liar. "Jadi harimau ini punya sifat-sifat liar dan itu tidak bisa diketahui kapan munculnya, apalagi harimau itu berjenis kelamin jantan. Kami juga mendapati fakta kalau kasus ini baru pertama kali, jelas ini peliharaan ilegal," tegas Ari.
Diberitakan sebelumnya, Suprianda meninggal dunia karena diterkam harimau saat memberi makan hewan peliharaan milik majikannya itu di dalam kandang yang berada di rumah seorang pengusaha kayu di Kota Tepian yang merupakan majikannya.
Sejatinya, Suprianda sudah menyampaikan keinginan untuk berhenti bekerja sebagai pemberi makan harimau itu setelah bekerja selama tiga tahun, namun tidak mendapat izin dari sang majikan, sampai akhirnya pria itu menemui ajal siang tadi.
Suprianda diketahui meninggal dunia diterkam harimau dari keterangan yang disampaikan Hanifah, adik perempuan almarhum. “Meninggalnya menurut bosnya (majikan Suprianda sekitar jam 11 saat memberi makan harimau yang ada di rumah itu. Dia memberi makan tapi lama tidak keluar dari kandang, setelah dipanggil-panggil tidak menyahut dan majikannya langsung mengecek ke kandang harimau, menemukan Sur (sapaan akrab Suprianda) sudah meninggal dunia,” papar Hanifah.
Hanifah pun mencari tahu kepada majikan kakaknya perihal kematian almarhum bisa dimangsa oleh harimau dan mendapat penjelasan kalau kemungkinan Suprianda diterkam saat berada di luar kandang, lantaran pintu kandang diketahui ada dua dan satunya tidak terkunci. "Posisi pintu kandang itu ada dua, yang satunya kemungkinan tidak dikunci sama Sur, keluarnya harimau itu dari situ, langsung diterkam. Waktu bosnya mengecek dan datang melihat Sur di dalam kandang, kemungkinan ditarik ke dalam oleh harimau itu," jelas wanita 26 tahun itu.
Suprianda sudah bekerja dengan majikannya itu sekitar tiga tahun. "Kerjanya dia beri makan harimau sama ada anjing juga," terangnya.
Sang adik pun mengatakan sebenarnya almarhum sudah lama ingin berhenti bekerja, tetapi selalu ditahan oleh majikannya. "Dia sudah lama mau berhenti, karena sering mau diserang sama harimaunya, tetapi bosnya ini tidak percaya, mau bukti," ungkap Hanifah.
Editor Aspian Nur