Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu provinsi yang kaya akan sumber daya alam (SDA) baik dari batu bara, minyak dan gas serta perkebunan kelapa sawitnya. Sehingga ia menyebutkan bila peran sungai Mahakam dapat dioptimalkan, tentu akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan daerah. Namun, menurut dia justru tidak demikian.
“Sungai Mahakam itu sekarang menjadi sungai oligarki , itu dasarnya. Dan itu langsung berangkat ke negara China, dampaknya ke Samarinda itu apa? Sepertinya tidak ada dampaknya,” bebernya, saat menjadi narasumber di Forum Diskusi Nasional bertajuk ‘Menyambut Pesta Demokrasi 2024: Tentang Bangsa Indonesia dalam Pemberantasan Korupsi dan Penegakan HAM di Gedung Prof Masjaya, Universitas Mulawarman (Unmul), Kamis (16/11/2023).
Selain itu, ia menjelaskan bahwa semestinya kehadiran sungai Mahakam memberikan nuansa kedamaian, bukan menciptakan kesengsaraan bagi masyarakat, terlebih sebagai sungai yang menjadi salah satu sumber kehidupan warga Kaltim.
“Mestinya, Sungai Mahakan itu bisa kalian nikmati sebagai spot untuk pacaran biar senang dan damai, tapi bagaimana mau senang dan damai kalau yang kalian lihat itu adalah tumpukan batu bara dan kalian tidak protes,” ujarnya.
Ia beranggapan batu bara merupakan bagian dari fosil nenek moyang, maka dari itu ia mendorong harus ada pikiran yang bermutu yang disampaikan oleh mahasiswa Unmul bahwa generasi Kaltim khususnya Samarinda berhak memperoleh hak pendidikan dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada di Kota Tepian tersebut.
“Generasi di Samarinda itu punya hak untuk mendapatkan kecerdasan, maka dari itu seluruh potensi yang ada di kota ini harus dikembalikan oleh teman-teman di sini,” ungkapnya.
Editor: Maruly Zainuddin