Marnabas mengatakan, dari hasil presentasi pada dasarnya Wali Kota Samarinda, Andi Harun sudah menyetujuinya, hanya saja masih ada beberapa perhitungan yang ditunggu dari pihak ahli. “Sebetulnya pak wali setuju, hanya tadi kami beri perhitungan beliau tidak mau, katanya harus yang betul-betul perhitungan dari ahlinya. Jadi diberi waktu lagi seminggu,” kata Marnabas.
Salah satu yang menjadi perhitungan dalam DED adalah rasio udara yang masuk, sehingga menyebabkan pasar menjadi panas dan pengap seperti saat ini. Setidaknya waktu tujuh hari diberikan kepada ahli untuk melakukan kajian terkait masalah ini.
Selain itu, untuk pemakaian AC atau pendingin ruangan di Pasar Pagi juga sangat dihindari guna meminimalisasi lonjakan biaya operasional. Sementara terkait kepastian relokasi pedagang untuk berjualan sementara waktu, pihaknya masih belum bisa mempublikasikan sembari menunggu penyelesaian kajian soal udara dari pihak ahli.
“Kita selesaikan dulu, baru kita carikan relokasi. Kita pasti carikan tempat yang aman dan nyaman. Tapi ingat sekali lagi, bahwa relokasi tidak semudah yang kita bayangkan,” urainya.
Dari hitungan awal, pedagangan yang berada di Pasar Pagi saat ini sudah mencapai 2.852. Dari pihak pemerintah kota (pemkot) nantinya bakal menyediakan 2.900 kios agar lebih banyak space dengan tarif Rp3 ribu per hari. Tarif yang sama juga bakal tetap diberikan pada bangunan yang ditargetkan rampung pada akhir 2024 mendatang.
Editor: Maruly Zainuddin