Kedatangan para mahasiswa dari beberapa kampus, yang tergabung dalam aliansi PMII untuk melakukan aksi solidaritas terkait dengan beberapa hal diantaranya permasalahan tujuh kader PMII di Bulukumba Sulawesi Selatan (Sulsel), yang ditangkap dan hingga kini masih ditahan.
"Ini bentuk aksi solidaritas terhadap kawan-kawan kami disana dan meminta mereka untuk dilepaskan, karena mereka disana hanya menyampaikan aspirasi, karena kami tidak ingin publik itu melihat demonstrasi adalah hal yang haram," kata Ketua PMII Cabang Samarinda, Ahmad Naelul Abrori kepada Korankaltim.com disela aksi sore tadi.
Mereka juga menyikapi hak asasi manusia, terhadap kejahatan lingkungan, atau pejuang-pejuang adat, yang rentan bergesekan dengan aparat kepolisian. "Satu diantaranya soal suku balik yang ada di Kecamatan Sepaku, yang mana bendungan itu merupakan wilayah tempat mereka hidup," sebutnya.
PMII juga menyoroti tragedi Kanjuruhan, yang mana 145 nyawa melayang, tetapi tidak ada yang bertanggung jawab. "Itu tidak dipertanggung jawabkan secara benar oleh pihak kepolisian, terlebih negara ini," katanya.
Terakhir merekapun menyoroti soal permasalahan tambang ilegal di Kota Tepian, yang dianggap aparat penegak hukum tidak serius dalam menanganinya.
"Kami melihat kepolisian tidak serius bahkan, tidak tegas dalam menindak itu (tambang ilegal). Ya, saya yakin mereka (kepolisian) memiliki titik koordinat, dan pihak-pihak yang berada di level kelurahan maupun desa, untuk mengamati wilayah sekitar," ujar Abrori.
Aliansi PMII membubarkan diri pukul 18.00 WITA.
Editor: Aspian Nur