“Mengalami gangguan kurang lebih tiga minggu menurut laporannya. Saya sudah koordinasikan ke PDAM terkait solusinya, mereka bilang kirim airnya pakai tangki,” kata Andi Harun.
Dari hasil tinjauan lapangan ini diketahui bahwa pipa induk PDAM di simpang empat khususnya Jalan Wahid Hasyim ke arah Jalan PM Noor terputus. “Penyebabnya karena pekerjaan drainase. Untuk pengerjaan ini kan sebenarnya niatnya baik, guna menangani banjir di wilayah PM Noor ini. Setelah saya cek lapangan, pemutusan pipa itu memang tidak bisa dihindari, harus dipotong sementara,” terangnya.
Namun yang membuatnya heran, menurut perhitungan dalam pengerjaan drainase paling lama dua sampai tiga hari saja pemutusan pipa dilakukan, akan tetapi faktanya pipa belum juga disambung hingga tiga Minggu lamanya.
Dirinya juga melakukan pengecekkan bahwa sudah ada kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan ini dari kelurahan, kecamatan, PUPR dan kontraktor bahwa bahwa saat pengerjaan, begitu pipa dipotong, maka akan secara paralel langsung disambung.
“Ini yang tidak berjalan, seharusnya dia mengerjakan sesuai kesepakan karena segala yang terjadi akibat pekerjaan ini sudah diperhitungkan sebelumnya. Itulah yang menyebabkan aliran air mengalami gangguan serius,” jelasnya.
Terkait masalah ini, pihak PDAM berjanji akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu tiga hari ke depan meski Andi Harun menganggap target tersebut tidak masuk akal, sebab menurutnya pengerjaan seperti ini membutuhkan waktu selama satu Minggu.
Apabila pengerjaan tersebut tidak bisa dipenuhi selama tiga hari, maka orang nomor satu di Samarinda ini bakal memberikan sanksi kepada PDAM. “Kenapa diberi sanksi? Karena dia telah membohongi kepala daerah, itu berat sanksinya kalau pejabat berbohong kepada kepala daerah,” tegasnya.
Editor: Maruly Zainuddin