Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengungkapkan, anggaran tersebut bakal dialokasikan untuk merespon cepat arahan dari Wali Kota Samarinda Andi Harun terkait tanggap bencana di Loa Kumbar, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang.
“Anggota sudah survei ke sana (Loa Kumbar) terkait dengan pembentukan desa tanggap bencana. Agendanya simulasi tanggap bencana untuk anak-anak sekolah, kalau tidak salah jumlahnya ada 47 siswa,” kata Suwarso pada korankaltim.com, Senin (11/9/2023).
Sedangkan untuk pelatihan pencegahan dan mitigasi kebencanaan bersama dengan sistem informasi kebencanaan atau (Samaris) yang merupakan sebuah website juga bakal dilakukan pada APBD Perubahan 2023 ini. Nantinya Samaris ini berisikan tentang peta rawan bencana, isi dari kapasiatasnya, dan sinyal-sinyal daerah tentu yang terjadi bencana seperti banjir, longsor dan lainnya.
“Termasuk di dalamnya ada longsor di lima titik, early warning system (EWS). Ada juga kegiatan rencana rekonstruksi longsor, kalau kemarin run off banjir yang sebelumnya sudah disusun sebelumnya, kita uji ternyata bisa dilaksanakan,” terangnya.
Suwarso mengaku bahwa pada APBD Perubahan 2023 ini, anggaran yang diajukan tidak sebanyak pada APBD murni lalu karena berpatokan pada waktu yang cukup singkat.
Ia lebih mendahulukan program kegiatan yang paling prioritas dan yang memungkinkan jika disesuaikan dengan tenggat waktu bisa terselesaikan. Jadi untuk saat ini pihaknya hanya memberikan pelatihan terlebih dahulu.
“Jadi skill mereka kita persiapkan pada APBD Perubahan 2023 ini. Nanti di 2024 baru bisa kita lakukan pengadaan, misal kaya perahu karet atau alat untuk pemadaman, nah itu di APBD Murni 2024,” jelasnya.
Termasuk pengadaan drone yang bisa menembus vegetasi sehingga bisa memantau bencana dan menghitung luas wilayah dengan harga sekitar Rp1,6 miliar yang merupakan permintaan Wali Kota Samarinda.
Editor: Maruly Zainuddin