Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana mengatakan, ketimpangan gender ini berkaitan dengan pembangunan manusia namun upaya itu tidak akan optimal jika terdapat ketimpangan antar gender sehingga harapannya ketika ada pembangunan manusia semua gender dapat menikmati pembangunan manusia tersebut.
“IKG ini menunjukan kerugian dalam capaian pembangunan manusia karena ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja,” ucap Yusniar Selasa (1/8/2023).
IKG merupakan indeks komposit yang mengombinasikan tiga dimensi untuk mengukur ketimpangan gender, yaitu kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja. IKG ini merujuk pada Gender Inequality Index (GII) dengan menggunakan indikator proxy yang memiliki hubungan yang kuat dengan rujukan global, menyesuaikan konsep kementrian kesehatan yang terstandar dan mempertimbangkan ketersediaan data.
“IKG ini pertama kalinya dirilis secara personal dan ini meIalui kajian dari tahun 2018 . nilai IKG berkisar antara 0-1, sebab semakin kecil IKG menunjukkan ketimpangan yang semakin rendah artinya kesetaraan yang semakin baik atau tinggi,” ungkapnya,
Di Kaltim, aspek dimensi pemberdayaan pada anggota legislatif gender laki-laki mengalami peningkatan pada tahun 2021 hingga 2022 meningkat dari 79,63 persen ke 80,00 persen sedangkan gender perempuannya dari 20,37 persen menjadi 20,00 persen
Sedangkan pada aspek pasar tenaga kerja laki laki mengalami kenaikan dari 81,35 persen menjadi 82,74 persen dan perempuan mengalami penurunan dari 48,20 persen menjadi 45,17 persen jadi ada kecendrungan penurunan yang semakin meledak.
Editor: Aspian Nur