Hal ini, diungkapkan salah satunya oleh Lina. Wanita berusia 40 tahun itu, adalah tante dari AR. Ia menyebut mendapatkan informasi dari ponpes, bahwa keponakannya mengalami muntah. Sayang, ketika sampai di rumah sakit, remaja berusia 13 tahun itu sudah tidak tertolong lagi.
"Itu ibunya ditelepon sama orang pondok, kalau anaknya sudah tidak ada. Mereka tidak bilang apa-apa, hanya bilangnya 'ibu harus kuat, anaknya sudah tidak ada, dia muntah, dibawa ke rumah sakit tetapi tidak tertolong', jadi itu saja yang disampaikan ke ibunya," ungkap Lina, saat ditemu di kediamannya di Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar) Sabtu (25/2/2023) lalu.
"Padahal kondisi terakhir anak ini sehat-sehat saja, tidak ada sakit," sambungnya.
Untuk itu, Leni berharap penanganan kasus ini, dapat berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun demikian, Leni mengaku, ia tak sepenuhnya bisa diterima. Ia menduga pihak ponpes sejatinya mengetahui, bahwa keponakannya itu telah mengalami penganiayaan sebelum akhirnya muntah, dan meninggal.
"Kemungkinan besar mereka tahu anak ini disakiti, saat kami datang, ditanya apa penyebabnya ya mereka diam, seperti ada yang ditutupi. Terus dengar dari bidan jam 6 itu nadi anak ini sudah tidak ada, dan jam 9 dikabarin, padahal ada jeda waktu 3 jam, tetapi mereka tidak bilang. Ya kalau kami tahu begini anak ini tidak akan kami kubur dulu," pungkasnya.
Sementara itu, Waka Polresta Samarinda AKBP Eko Budiarto menegaskan, dalam kasus dugaan penganiayaan itu, tak ada unsur pembiaran yang dilakukan oleh pihak ponpes.
"Itu bukan soal pembiaran, karena pihak pondok ini sangat kooperatif, bahkan saat penyidik mencoba gali informasi mereka kooperatif, buktinya mereka menyerahkan pelaku ke Polsek Sungai Pinang," ungkap Eko.
Dan lagi, lanjut Eko pihak pondok tidak mengetahui adanya penganiayaan lantaran, informasi awal yang diterima adalah AR terjatuh.
"Awalnya itu, si pelaku ini ngomong kalau korban terjatuh, makanya langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan," terangnya.
Tetapi, usai insiden tersebut, pihak ponpes disebut langsung melakukan investigasi internal untuk mengetahui pasti apa yang terjadi pada AR.
"Dan ternyata, hasilnya dari keterangan santri korban dianiaya dan ditanyakan ke pelaku baru dia mengakui perbuatannya. Sehingga pelaku diserahkan ke Polsek Sungai Pinang," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya santri berinisial AR (13) di salah satu ponpes tewas usai dianiaya oleh seniornya berinisial AF (20), gara-gara dituduh mencuri uang Rp 200 ribu. Kejadian itu terjadi pada, Sabtu (18/2/2023) lalu sekitar pukul 17.30 WITA di salah satu ponpes di kawasan Samarinda Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).
Editor: Rusdianto