Menanggapi insiden yang kerap terjadi itu, Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Samarinda, Agus Sakhlan menerangkan jika dalam proses pengolongan tongkang batu bara, biasanya dipandu atau diassiskan.
"Kalau melihat kejadian yang berulang ini, harus ada evaluasi dari Pelindo, karena itu pekerjaan dari mereka," kata Agus Rabu (28/12/2022) hari ini.
Tetapi, pihaknya mengaku tak bisa berkomemtar banyak soal insiden tersebut, pasalnya saat ini sudah masuk dalam ranah penyelidikan kepolisian dan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IIA Samarinda.
"Hanya saja memang harus introspeksi, dalam hal ini Pelindo. Karena kami selama ini ikut memantau dan sudah memberi masukan kepada ke mereka (pelindo), apa yang kurang dan apa yang harus dilakukan," ujarnya.
"Terjadinya ini bukan karena kesalahan pemilik kapal, melainkan dari pihak Pelindo. Karena ada kapal pandu disitu yang jelas ada advis kapal yang tugasnya memandu, apakah lurus atau ke kiri maupun ke kanan, itu dari pandunya bukan pemilik kapal, sehingga pandu yang bertanggung jawab disitu," sebut Agus.
Sepengetahun dirinya, dalam sehari bisa mencapai 40 kapal yang melakukan pengolongan, baik dari hulu muapun hilir.
"Ada yang turun dan ada yang naik. Dulu sudah disampaikan kalau cuaca buruk ditunda dulu untuk pengolongan, karena tidak mau mengambil risiko, ini harus melihat keselamatan dan keamanan. Kalau kejadian kemarin Pelindo seharusnya tahu kalau cuaca buruk ya harunya berhenti pengolongan, karena biasanya saat pemanduan (pengolongan), pasca hujan deras jembatan tidak bisa kelihatan," ucapnya.
Sementara, General Manager (GM) PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Samarinda Jusuf Junus saat dikonfirmasi terkait dengan insiden tongkang muatan batu bara, yang menabrak pilar Jembatan Mahakam belum lama ini, mengatakan jika dari kepanduan hanya sebagai penerima advis dan supervisi pelayaran.
"Dalam hal ini mengikuti perjalanan kapal melewati area itu (pengolongan) dan pandu tidak punya hak untuk mengambil alih posisi nahkoda, dalam merubah posisi kapal, dan itu tanggung jawab nahkodanya," ungkapnya.
"Dan bagaimana pandu ini juga harus menciptakan suatu pola, sehingga kapal bisa diatur aman," sambung Yusuf.
Kalau melewati kolong Jembatan Mahakam tersebut cukup kritis, dengan lebar sekitar 60-70 meter tersebut. "Sementara ukuran tongkang cukup besar, inilah yang selama ini menjadi momok. Tetapi, kami tetap melakukan evaluasi, apa yang menjadi koreksinya," imbuhnya.
Untuk evaluasi yang dilakukan sendiri, dari pihaknya (Pelindo) yakni menambah personel pandu, yang awalnya hanya dua menjadi tiga orang.
"Termasuk kapal tunda yang awalnya dua menjadi tiga, juga pilot boatnya ditambah jadi dua. Yang nantinya tempat naiknya itu nanti disekitaran bigmall, ancang-ancangnya dari situ," pungkas Agus.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur