Pasalnya, hingga saat ini tanaman yang mirip dengan ganja tersebut masih terus dilakukan penelitian. "Ya, padahal kalau efeknya ini jauh lebih besar dari ganja, tetapi belum ada larangan," sebut Jenderal bintang satu tersebut.
Yang jelas, saat ini pihaknya tetap memberikan imbauan kepada masyarakat di Kaltim untuk tidak menggunakan tanaman berbahaya itu.
"Kami tetap imbau masyarakat ya, karena sebenarnya ini tanaman liar dan sudah menjadi mata pencaharian masyarakat di Kalimantan. Artinya, nantinya harus ada solusi ya, mereka beralih kemana, jika dilarang," tutupnya.
Sementara, Analisis Direktorat Pemberdayaan Alternatif BNN RI, Rieska Dwi Widayati saat dikonfirmasi terkait dengan tanaman kratom, pihaknya menyebutkan jika untuk Indonesia hingga saat ini hasil riset sedang berjalan.
"Tetapi untuk negara lain sudah diatur dalam regulasinya, karena itu (kratom) bisa menyebabkan ketergantungan dan efeknya seperti opioid," ungkapnya saat dihubungi melalui via whatshap Jumat (21/10/2022) hari ini.
Ditanya soal apakah tanaman kratom ini lebih berbahaya dibandingkan dengan ganja, ia menyebutkan keduanya memiliki efek yang berbeda.
"Untuk ganja itu bisa menyebabkan halusinasi dan ketergantungan, kalau efek jangka panjangnya dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan otak. Sedangkan kratom, efeknya opioid seperti halnya golongan opioid misalnya morphin dan heroin," terangnya.
"Artinya ganja punya efek halusinogen, jadi tidak bisa dikomparasi mana yang berbahaya, karena masing-masing memiliki efek yang berbeda. Tetapi, menurut kajian literatur kratom ini sudah menimbulkan banyak masalah di negara lain dan ini kembali kepada negara kita, mau mengatur atau tidak, melihat permasalah di beberapa negara tersebut," sambungnya.
Yang jelas lanjut kata Rieska, jika sambil menunggu hasil riset yang tengah berjalan, pihaknya dari BNN melakukan penyuluhan, dengan sosialisasi dan juga pelatihan kewirausahaa bagi pelaku usaha tanaman kratom.
"Jadi, masing-masing instansi harus mengambil langkah-langkah strategis, sesuai tugas pokok dan fungsinya," imbuhnya.
Lanjut kata Rieska, pihaknya pun mengaku jika BNN selama ini telah berupaya melakukan sosialisasi terkait efek dan bahayanya kratom, sekaligus memberikan pelatihan kewirausahaan supaya masyarakat punya ketrampilan dan memiliki usaha lain yang lebih produktif serta legal dan aman bagi kesehatan.
"Makanya ini semua kembali lagi kepada masyarakat kita, karena kami pun sudah melakukan sosialisasi soal bahanya kratom," pungkasnya.
Penulis: Nancy
Editor: Maruly Zainuddin