Tak hanya petani, para nelayan laut maupun sungai pun merasakan hal yang sama, yakni terpukul dengan kenaikan harga BBM yang juga sering terjadi kelangkaan ini.
Abah Nanang menerangkan kondisi petani sawit tentu berbeda dengan perusahaan kelapa sawit skala besar. Mereka selama pandemi sudah sulit. Harga kelapa sawit juga sempat terpuruk.
"Baru saja mau menikmati hasil karena harga mulai naik, dipukul lagi dengan kenaikan harga BBM,” ulasnya.
Operasional petani sawit tentu memerlukan BBM yang tidak sedikit. Misalnya proses mengangkut buah sawit, sampai proses perawatan yang memerlukan BBM. Begitu pula petani sawah, menurutnya sangat terpukul dengan kebijakan ini, karena saat ini sektor pertanian juga sudah banyak menggunakan mesin.
Dengan naiknya harga BBM tentu saja akan menaikkan biaya operasional, sementara harga jual hasil panen tidak bisa mengalami kenaikan. Sehingga ongkos produksi tidak sebanding dengan harga jual.
Karenanya, dirinya mengusulkan agar kenaikan harga BBM yang sudah diputuskan itu bisa ditinjau ulang bahkan dibatalkan. Sebagai gantinya, Abah Nanang mengusulkan agar pendapatan negara bisa didapatkan dengan cara melakukan penghematan pada pos-pos anggaran yang bisa ditekan agar lebih efisien.
“Usulan ini penting untuk didengarkan. Karena kondisi rakyat saat ini sedang sangat kesulitan,” pungkasnya.
Penulis: Faishal Ays
Editor: Maruly Zainuddin