“Sebelum terjadi perang (Rusia-Ukraina) kan sudah diprediksi tahun ini jadi pemulihan pasca Covid-19. Produksi digenjot untuk meningkat, kebutuhan bahan bakar atau energi jelas meningkat,” terang Hairul pada korankaltim.com, Rabu (7/9/2022).
Akibat kegagalan tersebut, mau tak mau untuk menekan konsumsi masyarakat akan BBM bersubsidi, pemerintah pun menaikkan harga jual BBM, yang mana menurut Hairul akan menilmbukan efek lain. Salah satunya penurunan daya beli masyarakat yang disebabkan oleh inflasi.
“Hal ini bisa terjadi selama 1 sampai 2 bulan ke depan, selama masa penyesuaian. Kita belum tahu apakah harga minyak akan turun atau tidak,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan 10 persen dari harga BBM, maka angka inflasi akan meningkat sebesar 0,5 persen. Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi jenis pertalite yang naik 32 persen, maka Hairul meminta publik menghitung angka inflasi yang kemungkinan terjadi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi.
“1,5 persen lebih potensi kenaikan kita. Jadi dari pemerintah, dan juga masyarakat harus bisa mengupayakan angka inflasi untuk tetap di ambang batas normal,” pungkasnya.
Penulis: Permata S. Rahayu
Editor: Maruly Zainuddin