Diketahui, pada Maret 2022 lalu juga pernah ada penambangan di lokasi tersebut, tetapi menjadi viral dan akhirnya ditutup. Seorang warga setempat kepada Korankaltim.com menjelaskan, warga RT 43 dan 42 termasuk tokoh masyarakat, sejak awal sudah sepakat untuk tidak ada lagi penambangan ilegal di lingkungan mereka.
"Kami sudah rapat dan sepakat tidak ada tambang disini, itu akhir tahun 2021 lalu, memang tidak ada hitam diatas putih," ujar warga itu Rabu (6/7/2022) sore tadi.
Tetapi seiring berjalannya waktu, beberapa bulan pasca rapat tersebut, sekitar dua pekan lalu saat dirinya berangkat kerja melihat ada alat berat berupa eksavator di lingkungan RT 42 di pekarangan rumah ketua RT.
"Saya kaget, padahal kan sudah sepakat, tidak boleh mendatangkan alat berat sebelum tahu untuk apa tujuannya, jadi ketua RT melanggar kesepakatan," tegasnya.
"Saat ditanya mengenai eksavator itu kata RT untuk membuat jalan di samping rumahnya, sampai ke belakang," sambungnya.
Tak percaya begitu saja, warga yang curiga alat berat itu digunakan sebagai akses untuk mengeruk batu bara bersama warga lain mengecek ke lokasi tanah milik ketua RT tetapi tidak ada.
"Karena tidak ada kami cek ke lokasi, ternyata kecurigaan kami benar, ada batu baranya di lokasi yang juga pernah ditambang sebelumnya dan sudah berjalan hampir seminggu," ucapnya lagi.
Warga pun berinisitif untuk memblokir akses jalan tambang ilegal tersebut. "Tetapi, ternyata portalnya dicabut sama premannya. Ada warga yang ngomong kalau kami yang langsung turun pasti berbenturan (berhadapan) dengan preman," ungkapnya.
Warga memprediksi kalau aktivitas ilegal itu tetap berjalan maka jalur hauling atau pengangkutan batu bara akan melewati pemukiman warga.
"Karena batunya (batu bara) belum ada keluar kami ambil langkah cepat untuk aksi dengan memportal jalurnya. Tetapi ya itu, kami akan berbenturan dengan preman, makanya kami minta hal masalah ini diviralkan," paparnya.
Untuk selanjutnya pasca aksi portal jalan tambang ilegal ini warga akan kembali menggelar rapat untuk melihat reaksi dari RT. "Kami mau lihat bagaimana reaksi ketua RT, apakah dia berani menghentikan aktivitas ini atau dia tetap lanjut," sebut warga tersebut.
Terpisah, Lurah Lempake Nurharyanto mengaku belum mendapat laporan mengenai adanya aksi protes warga terkait penambangan batu bara di Sukorejo Lempake ini.
"Samping pondok memang ada (penambangan batu bara) dan belum pernah dilaporkan, baru melihat saja. Itu biasanya ada kerjasama dengan warga juga. Coba tanya pak RT-nya," singkatnya.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur