"Kami dari BAP DPD RI, memfasilitasi adanya keluhan masyarakat tersebut. Dalam hal ini, saya melihat yang terjadi adalah miskomunikasi saja," kata Zainal Arifin, saat dihubungi Korankaltim.com, melalui sambungan telepon.
Selanjutnya diketahui, bahwa ternyata terjadi penurunan produksi, sehingga limbah getah pinuspun ikut turun. Hal ini baru diketahui, ketika proses mediasi bersama DPD RI. Dari data yang disampaikan pihak Perhutani, terjadi penurunan supply limbah getah pinus dari kurang lebih 300 drum per bulan menjadi 30 drum per bulan.
Untuk itu, lanjut Zainal Arifin pihak Perhutani tengah melakukan peningkatan efektivitas bahan sehingga limbah semakin minim. Sebagai solusi Perhutani menawarkan ke pengrajin agar dapat mengolah gondo hitam menjadi malam. Sehingga kebutuhan pengrajin untuk produksi batik terpenuhi.
Sementara itu, Edi Bambang Purwanto salah satu perwakilan pengrajin mengaku, akibat pengurangan limbah yang dilakukan oleh Perhutani, hampir 30 pengrajin batik akhirnya gulung tikar dalam beberapa tahun belakangan ini.
Oleh karenanya, dengan adanya pertemuan kali ini ia berharap, Perhutani dalam waktu dekat dapat memenuhi kembali kebutuhan limbah getah pinus yang menjadi bahan baku pembuatan batik.
"Kami sangat mengapresiasi gerak cepat dari DPD RI, setelah kami sampaikan keluhan kami, mereka langsung menindaklanjuti dengan mempertemukan kami bersama pihak perhutani," kata Edi.
Sebagai informasi, dari mediasi yang dilakukan oleh BAP DPD RI dihasilkan beberapa keputusan mendasar. Di antaranya adalah Perum Perhutani akan memfasilitasi penyediaan Gondo Hitam untuk menjadi malam dan melakukan pembinaan kepada pengrajin dan Perum Perhutani juga diminta untuk memberikan penyesuaian harga Gondo Hitam agar memiliki nilai ekonomi bagi pengrajin.
Selain itu pula, BAP DPD RI berharap Perum Perhutani dan pengrajin dapat meningkatkan komunikasi yang intensif, sehingga tidak terjadi lagi kasus serupa. Terakhir BAP DPD RI juga akan melakukan pengawasan terhadap hasil kesepakatan tersebut.
Adapun 16 orang anggota BAP yang hadir dalam gelaran mediasi tersebut secara berturut-turut adalah Ketua BAP Bambang Sutrisno (Jawa Tengah), Wakil ketua I Asyera Respati A. Wundalero (Nusa Tenggara Barat), Wakil Ketua II Zainal Arifin (Kalimantan Timur), Adilla Aziz (Jawa Timur), Alirman Sori (Sumatera Barat), Ria Mayang Sari (Jambi), Ahmad Bastian (Lampung) dan H. Dharma Setiawan (Kepulauan Riau).
Berikutnya ada Andiara Aprilia Hikmat (Banten), H. Cholid Mahmud (Yogyakarta), H. Bambang Santoso (Bali), Habib Said Abdurrahman (Kalimantan Tengah), Habib Zakaria Bahasyim (Kalimantan Selatan), Ikbal HI Djabid (Maluku Utara), Abdul Rachman Thaha (Sulawesi Tengah) serta Lily Amelia Salurapa (Sulawesi Selatan). (*)
Penulis : Rusdi
Editor : Rusdi