Kegiatan MYC itu akan memakan anggaran kurang lebih sebesar Rp 200 miliar selama tiga tahun. Novida membeberkan pada tahun ini besaran anggaran yang akan digelontorkan sebesar Rp50 miliar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Samarinda.
"Ada juga di tahun ini dari Bankeu (Bantuan Keuangan) Provinsi, tapi kami belum tau lagi berapa besarannya," ucap Novida Rabu (23/3/2022).
Pengendalian banjir yang direncanakan tersebut akan dilakukan pada dua titik yaitu kawasan Bengkuring dan Pampang. Khusus kawasan Bengkuring, Novida menjelaskan terdapat dua kegiatan yaitu penanggulan dan pembangunan kolam retensi, sayangnya pada titik itu sedikit terhambat lantaran ditemukan persoalan lahan yang diklaim oleh masyarakat padahal rencana titik pembangunan merupakan aset Pemkot Samarinda sebesar 18 hektare. "Sementara ini persoalan lahan masih berjalan untuk pengamanannya," jelasnya.
Perkiraan spesifikasi tanggul yang akan dibangun oleh pihaknya memiliki panjang sekira 1,2 kilometer dengan satu sisi sementara untuk pembangunan kolam retensi sebesar 18 hektare.
Sedangkan untuk pembangunan kolam retensi pada kawasan Pampang memiliki kebutuhan lahan sekira 70 hektare, yang dimana pada titik itu memerlukan proses pembebasan lahan terlebih dahulu.
Terhadap tiga kegiatan itu, Novida menegaskan efektivitas pengendalian banjir tentunya akan dirasakan pada tiap kawasan yang akan menerima kegiatan penanganan banjir, terlebih pada kawasan Pampang setidaknya limpasan air yang turun ke Waduk Benanga akan tereduksi imbas dari pembangunan kolam retensi.
"Pastinya pada kawasan Bengkuring akan menangani daerah sekitarnya," ungkap Novida.
Menurutnya untuk banjir yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh pasangnya air pada Sungai Mahakam serta intensitas hujan yang belakangan ini mengguyur Kota Samarinda.
Penulis: Claudius Vico
Editor: Supiansyah