"Mereka kerja sudah tiga bulan pakai dua excavator untuk mengeruk. Sistemnya gunting lipat, mereka menyebutnya gali timbun," kata Misri.
Untuk haulingnya atau pengangkutan batu bara mereka melalui jalur dalam, tembus ke jalan umum menggunakan truk roda empat. Selama mereka bekerja warga hanya mendapatka sekali “uang debu”, setelah itu tidak lagi.
"Sekali saja dapatnya dan kami juga tidak tahu tiba-tiba mereka kerja disini, kesepakatan dengan siapa tidak tahu, kami ngikut saja," jelas pria 43 tahun ini.
Pasca digali area yang ditambang dibiarkan begitu saja tanpa ada pembenahan dan dampak yang terjadi banjir lumpur dari lahan bekas tambang tersebut.
"Ini baru pertama kali banjir lumpur sampai masuk ke rumah warga dan memenuhi jalan, itu tadi malam pas hujan," paparnya.
Mistri bersama warga membersihkan lumpur yang tertinggal di jalan akibat lumpur yang terbawa banjir. "Tanahnya turun, mau tidak mau harus dibersihkan, kasihan orang kalau tidak bisa lewat, apalagi ada anak-anak pengajian kalau malam," jelas Misri.
Novianto, warga lainnya yang rumahnya terendam banjir lumpur menyampaikan hal yang sama. "Air campur lumpur ini kan dari pengupasan lahan batu bara sejak akhir Desember. Tambang batu bara koridorin ini kesepakatan dari RT yang memberikan izin, kami tidak tahu," jelas Novianto.
Banjir lumpur ini pun diakuinya baru pertama kali terjadi dan menerjang rumahnya dini hari tadi. "Anggota keluarga gak ada tidur karena banjir lumpur ini," sebutnya.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur