Inisiator Rakat Kaltim Muhammad Husni Fahruddin alias Ayub menjelaskan, usulan ini sebagai bentuk perjuangan untuk mendapatkan dampak positif dari hadirnya IKN di Kaltim yang harus diperjuangkan secara komunal serta solid.
"Mari berjuang, berdarah, menangis dan bahagia bersama di bumi Kalimantan Timur," kata Ayub usai pengukuhan dirinya sebagai Ketua Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) Kaltim malam ini.
Menurut Ayub, kalau masyarakat terpecah-pecah, sejatinya akan mudah dipecah belah oleh kepentingan-kepentingan oligarki sementara jika bersatu maka akan sulit dipatahkan oleh orang yang ingin memanfaatkan IKN nanti.
"Kami ingin menciptakan dengan bergerak bersama tanpa memandang suku ras golongan. Kami bukanlah apa apa, Kutai tidak terkenal di Jakarta, perlu dorongan dari rumpun lain yang terkenal dan harus bersatu. Kearifan lokal adalah sebuah pondasi, kenyataan yang tidak bisa di pungkiri sebagai satu wujud Indonesia," papar Ayub lagi.
Sejatinya Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Sultan Paser bukanlah orang yang gila jabatan sehingga, Ayub sebagai inisiator Rakat Kaltim hanya menginginkan restu bumi dan restu sejarah.
Dalam waktu dekat mereka akan membawa tokoh-tokoh adat, Kesultanan Paser dan Kukar ke Jakarta. "Kami mau menyampaikan kalau butuh kearifan lokal yang mumpuni untuk mengamankan kondusifitas IKN karena untuk mewujudkan cipta kondusif yang baik maka yang tepat yaitu pimpinannya Sultan," sebutnya.
Penulis : Faishal Ays
Editor: Aspian Nur