Menurutnya, perdebatan akademis soal Ibu Kota Negara (IKN) berantakan gara-gara video viral itu karena sekarang justru bergeser ke sentimen identitas primordial.
"Kelompok oligarki itu pasti tertawa terbahak-bahak, lapak bisnis IKN aman. Mereka yang berpesta pora, rakyat yang dibiarkan berkonflik. Keterlaluan," tegas Castro, sapaan akrab Herdiansyah Hamzah.
Menyoal video tersebut, itu pertanda basis argumentasi EM ini sangat lemah, sehingga cenderung liar dengan memasukkan uraian yang tidak perlu semacam jin buang anak, kuntilanak, genderuwo dan lain sebagainya.
Padahal jika ingin dikuliti secara serius, argumentasi mengenai penolakan IKN ini cukup memadai. "Hal ini yang patut disayangkan. Walhasil, perdebatan akademis mengenai IKN ini justru berbelok ke sentimen identitas primordial," ungkapnya.
Ia memaklumi ketika terdapat banyak kalangan yang merespon pernyataan Edy. Namun, baginya sulit dipahami jika dibandingkan dengan reaksi terhadap perampasan tanah adat yang dilakukan oleh korporasi selama ini. Begitu banyak tanah adat yang dirampas, tapi respon publik minim. "Mulai dari konflik lahan di Long Isun, Bentian, Long Bentuq," jelas Castro lagi.
Terlepas dari framing atau bukan, yang pasti pernyataan tersebut telah mengalihkan isu dan perdebatan akademis mengenai IKN. Situasi ini jelas menguntungkan kelompok oligarki, lapak bisnis IKN mereka jalan terus. Pesta pora berlanjut, warga yang berkonflik.
"Saya sih berharap perdebatan mengenai IKN ini dikembalikan ke jalurnya secara akademis. Itulah liciknya kelompok oligarki ini, mereka menumpang menggunakan isu identitas primordial untuk memgalihkan isu sekaligus menutup ruang perdebatan akademis mengenai IKN. Keterlaluan memang," tutup Herdi.
Penulis : Faishal Ays
Editor: Aspian Nur