"Makanya jargon kami Telur S dari Samarinda untuk Indonesia dan tentunya usaha ini memiliki keuntungan besar," kata Hamade kepada Korankaltim.com Rabu (3/11/2021) hari ini.
Untuk memasarkan telur ke seluruh daerah di Indonesia memang tidak semudah membalikkan telapak tangan terlebih produksi telur di Samarinda yang belum memadai untuk didistribusikan keluar daerah yang menjadi tantangannya.
Strategi untuk mencapai tujuannya itu, ia bakal merangkul sejumlah kampung yang nantinya akan mendapatkan sebuah pelatihan dari pihaknya untuk mengelola peternakan ayam bertelur.
"Motto kami ini juga ada Maju dan Manfaat dalam hal ini kami akan merangkul masyarakat agar dapat bermanfaat nanti dari kampung itu hasil telurnya kami pastikan akan diambil oleh PDPAU untuk dipasarkan tentu kampung dapat keuntungan," paparnya.
Hingga saat ini ada 2 kampung yang sementara ini disasar PDPAU Samarinda yaitu di kawasan Loa Bakung dan Sambutan, sehingga jika program tersebut berhasil nantinya akan ditularkan ke sejumlah kampung lainnya.
"Jadi warga setempat yang akan diperdayakan melalui ini bisa sekalian membuka peluang kerja baru di temgah masyarakat," ujar Hamade.
Targetnya dalam jangka waktu dua bulan ini percontohan yang ada di dua kampung itu dapat berhasil sesuai harapan kemudian pada 2022 mendatang pihaknya kembali melebarkan sayap untuk mensosialisasikan ke setiap RT yang memungkinkan. "Jadi tahun depan kita bisa kejar program produksi 3 juta telur," jelasnya.
Setiap kampung yang akan diajak PDPAU mengelola peternakan ayam bertelur jangan mengkhawatirkan dampak negatif dari lingkungan yang ditimbulkan seperti aroma hingga kotoran hewan yang bertebaran, sebab pihaknya akan menggunakan teknologi probiotik modern.
"Soalnya dengan teknologi itu ayam bertelur akan mengeluarkan kotoran yang tidak basah otomatis tidak banyak lalat dan produksi telurnya juga pasti unggulan," jelas Hamade.
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur