Kepada Korankaltim.com disela-sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Minggu (24/10/2021) petang kemarin, Ketua Yayasan Pesantren Tahfizhul Qur'an Baytur Ridhwan Erna Luthfiyah menjelaskan, sejak berdiri lima tahun silam, pesantren yang dipimpinnya sudah berhasil memunculkan para penghafal ayat suci dan sunah nabi sejak dini alias dalam usia yang relatif masih muda, usia 7 tahun.
“Pesantren ini sekarang memiliki 35 santriwan dan santriwati usia sekolah yang dididik untuk jadi Generasi Rabbani karena kami berharap dari sini bisa lahir dan muncul penghafal Alquran dan sunah di usia muda yang bisa menyebarkannya lewat dakwah tak hanya di Samarinda dan Kaltim tapi ke seluruh Indonesia,” papar Erna.
Saat awal berdiri, Pesantren Baytur Ridhwan tidak memungut biaya alias gratis dan menerapkan sistem mondok agar anak-anak yang masuk bisa diawasi dengan ketat.
“Tapi sejak pandemic Covid-19 lalu, kami putuskan tidak ada anak-anak kami yang menginap disini sampai sekarang untuk menghindari penyebaran virus corona,” jelasnya.
Pelan namun pasti, Pesantren Baytur Ridhwan terus berkembang. Uniknya, mereka bertahan sampai sekarang dengan hanya mengandalkan donatur tanpa ada bantuan dari pemerintah. “Ya terus terang kendalanya dana yang kurang, tapi karena niat kami sejak awal demi mensyiarkan agama Islam, Alhamdulillah ada saja rejeki yang didapat dan membuat pesantren ini bisa bertahan sampai sekarang,” ujar Erna lagi.
Hanya saja Erna tak merinci berapa keperluan anggaran untuk menggelar kegiatan di pesantren ini, padahal anak-anak yang belajar masuk secara gratis sementara setiap pulang belajar mendapat bingkisan meski tidak besar namun bisa membuat mereka senang yang tentu saja memerlukan biaya untuk membelinya.
“Bantuan dari donatur kadang uang bisa juga jajanan untuk anak-anak. Pastinya kami berusaha mandiri dan selama ini memang tak pernah kami mengajukan bantuan kepada pemerintah, yang ada hanya dari teman-teman donatur saja,” ucap Erna yang juga mengajar di pesantren ini.
Pesantren yang sebenarnya hanya berupa bangunan dengan panjang 7 meter dan lebar 40 meter ini didesain sedemikian rupa agar bisa menampung banyak santri dan santriwan. Bangunan disekat jadi beberapa bagian, terdiri dari dua ruangan besar untuk mengajar para santri, ruang pengasuh dan penjaga, dapur serta musala.
Ironis, di tahun ketiga atau tahun 2019, ada oknum tak bertanggungjawab merusak bangunan ini yang saat itu tidak dijaga. Namun pemilik yayasan tetap melanjutkan kegiatan seperti biasa setelah memperbaikinya.
Pada acara maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijriyah kemarin bertema Cintailah Rasulullah agar Selamat Dunia dan Akhirat, selain ada tausiyah juga ada hiburan berupa dongeng Islami yang dibawakan pendongeng anak nasional, Setiawati.
Saat ini selama satu pekan proses belajar di Pesantren Baytur Ridhwan dilangsungkan empat kali. Ada dua pengajar yang aktif mengajari santriwan dan santriwati di pesantrean ini mereka materi yang diberikan antara lain membaca Alquran, hadist-hadist pendek, doa sehari-hari, praktek salat, menulis huruf Hijaiyah dan pelajaran tambahan selanjutnya adalah Bahasa Inggris.
“Kami ingin para santri pandai membaca dan menghafal Alquran dengan baik dan benar, berakhlak sesuai ajaran Islam, paham ajaran Islam dan diamalkan dgn baik. Intinya, kami berharap mereka jadi Generasi Robbani, muslim dan muslimah yang sukses, bahagia dunia akhirat,” tutup Erna.
Editor: Aspian Nur