"Saya sama keluarga ada 11 orang, kebetulan ini mau pulang ke Pinrang, karena sudah berhenti dari perusahaan dan ini bawa truk untuk pindahan, saya bawa semua perabotan," ungkapnya.
"Setelah sampai di Pelabuhan tadi malam, saya sama keluarga langsung naik ke kapal untuk tidur. Tetapi, pas pemeriksaan, ternyata harus ada kartu vaksin dan kami tidak ada, karena memang di sana belum ada vaksin masuk, ya makanya kami diminta untuk turun dari kapal," sambungnya.
Lantaran gagal berangkat, Sinar merasa bingung karena jika kembali ke Kutim pun tak diterima lagi, sedangkan di Samarinda dirinya tak memiliki keluarga.
"Ya tidak ada rumah di sini, mau kembali juga tidak diterima lagi, karena sudah berhenti kerja, makanya bingung mau tinggal di mana," katanya dengan raut wajah kecewa.
Ia mengaku kecewa terkait aturan tersebut karena baru mengetahui setelah tiba di Pelabuhan Samarinda.
Tak hanya itu saja, ia mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Seperti, sewa truk sebesar Rp 20 juta serta Rp 250 untuk swab antigen untuk 11 orang, sama lainnya.
"Kalau sudah begini ya pasti kecewa, tidak bisa pulang, mana sudah keluar uang banyak, sekitar Rp20an juta lebih. Ya, kami ini yang penting bisa pulang saja, kalau bisa berangkat walau tertahan di Pare Pare biar saja ditahan polisi, lebih baik begitu dari pada tidak bisa pulang terlantar di sini," pungkasnya.
Hal senada pun diungkapkan salah satu penumpang bernama Nurlina (39), ia bersama keluarganya tak bisa berangkat karena tak memiliki kartu vaksin.
"Ini saya baru tahu hari ini, kalau ada syarat harus ada kartu vaksin, nah sedangkan kami mau vaksin, persediannya juga tidak ada," ungkapnya.
"Ini saya ada 7 orang, mau berangkat ke Mandar, karena orang tua meninggal saya meninggal, memang sudah dimakamkan, tetapi kami minta tunggu untuk dibacain doa," sambungnya.
Dirinya pun bingung harus bagaiman, karena ia dan keluarga tersebut datang dari Berau, datang ke Pelabuhan Samarinda.
"Memang belum ada antigen, karena bilang agen penumpang, bisa di Pelabuhan, ternyata tidak bisa juga, karena harus ada kartu vaksin. Sekarang bingung mau tidur dimana, ya mau tidak mau tidur di pelabuhan," pungkasnya.
Saat ini dari pantauan di lapangan, para penumpang yang gagal berangkat pun terlantar di Pelabuhan Samarinda, meski memang ada sebagian yang pulang ke rumah dan tinggal di tempat kerabat mereka.
Penulis: Nancy
Editor : Bambang Irawan